“Cinta itu sebuah anugerah yang betul-betul harus disyukuri”
Terkadang semua orang ga sadar kalo cinta bisa mengalahkan segalanya. Dan juga cinta itu penuh dengan keajaiban.
♥♥♥
“Eh… lo da tau ga dengan website ‘NovelQuntuk Mu’?? tanya seorang cewek pada temannya. Mereka lagi duduk sebuah taman yang lagi rame.
“Oh..yang itu. Kakakku sangat suka banget tuh ma ceritanya, katanya sih ceritanya mengenai percintaan anak muda sekarang” sambung temannya
“Aku jadi penasaran dengan pengarang novel itu, apalagi setelah aku membaca novelnya yang judulnya ‘Bundaku’. Gila gue bacanya sedih banget, nyentuh gitu de”
Jauh dari dua cewek itu, seorang cewek yang jelek dengan kacamata tebalnya tersenyum lebar mendengar oboralan dua cewek tadi dan menampakkan kawat gigi digiginya.
Rasa penasaran kalian pasti akan barubah setelah tau siapa pengarang asli novel di website itu. Yah…cewek jelek dengan kaca matanya yang tebal, percis seperti betty la pea. Aku ga bisa bayangin akan kekecewaan yang akan kalian tunjukkan nanti, batin cewek itu yang tak lain adalah pengarang novel yang ada di website.
Namaku adalah Viona Jasmine. Tapi kalo di website NovelQuntukMu, aku menyingkatkan diriku VioJa.
Tapi kata teman-teman namaku itu ga pantas untuk diriku yang jelek ini. Katanya namaku terlalu bagus, sampe-sampe mereka mengejekku dengan ‘si jelek berkaca mata tebal’. Awalnya aku sedih banget dengan kata-kata dan ejekkan itu. Tapi sekarang itu merupakan motivasiku untuk membuat novel. Yah…karena aku takut mempublikasikannya, akhirnya aku membuat suatu website tentang semua novelku. Dan hasilnya sekarang novelku menjadi topic pembicaraan dan banyak yang menyukai. Aku sangat puas akan hal itu.
Aku mendongak keatas, menatap awan-awan dan burung yang lagi terbang menembus awan yang lembut.
♥♥♥
Terkadang gue sendiri ga tau apa itu cinta, jujur aku belum pernah yang ngerasakan namanya debaran cinta. Debaran yang sanggup membuat sesak didada. Katanya cinta indah kalo saat indah, dan menderita kalo saatnya menderita. Jadi sebenarnya cinta itu apa???
Sering sekali terpikirkan dalam benakku makna sesungguhnya dari kata cinta.
Yah..mungkin bagi yang udah ngerasakan apa itu cinta, pasti bisa donkz mendefinisikan arti cinta.
Tapi…lain orang, lain juga pendapatnya tentang cinta. Satu contoh kata teman gue, cinta itu diidentik dengan kata disakiti dan menyakiti, ada juga yang mengatakan cinta itu sejuta rasanya. Tapi bagiku yang masih awam berbicara tentang cinta, cinta itu adalah sebuah kata yang dapat mewakili seluruh perasaan saat kita semua merasakan yang namanya senang, sedih, berdebar-debar dan merasakan kalo hanya kita yang bisa menaklukin dunia dengan cinta.
Hahahaha…mungkin kelihatanya sederhana, tapi cobalah untuk meresapi cinta. Cobalah untuk mulai merasakan debaran datangnya cinta. Pasti kalian akan merasakan kalo cinta itu sesungguhnya adalah sebuah anugerah yang ga da duanya.
Aku menghentikan jemariku pada laptop kesayanganku sambil menaiki kacamataku. Aku mencoba berpikir tentang novelku. Dalam benakku, aku mencoba merangkai kata-demi kata
Hhhhhh….aku menghela nafas mencoba untuk menetralkan isi penat dalam hatiku. Terkadang aku iri banget dengan cerita teman-temanku. Mereka begitu bahagia menceritakan kisah cinta mereka. Yah…nasib jelek selalu menghantui diriku. Tapi kata Mamaku cinta itu ga akan pernah pergi..emmm…maksudnya jodoh itu ga akan kemana-mana kok. Asal kamu sabar menunggu datangnya waktu dimana kamu akan dipertemukan dengan cinta sejatimu. Yah…aku tau kalo sebenarnya nyokap gue itu hanya menghiburku, karena cinta untukku ga akan pernah ada dan ga akan datang. Kamu tau kenapa????? Itu karena fisik aku yang ga mendukung untuk menjadi tipe ideal bagi para cowok. Tapi inilah aku. Aku yang jelek dan aku yang seperti ini.
Tapi kata teman-teman, aku ini mempunyai sebuah karisma yang unik. Aku sendiri aja ga tau apa maksudnya, tapi yang jelas aku harus ‘be myself’. Karena mencari cinta itu hanya butuh untuk jadi dirimu sendiri.
♥♥♥
Aku melangkahkan kakiku menuruni anak tangga dan menuju ruang tamu.
“Lagi nonton acara apa sih Ma??tanyaku
“Ini siaran gossip. Tentang pengarang Novel di situs-situs gitu. Makin banyak aja macam-macam manusia ini” keluh mama tapi matanya tak luput dari tivi.
“…”
“Mama bingung sama pengarang di situs-situs itu”
“Maksud Mama???”
“Ngapaen juga dia merahasiakan identitasnya.Toh dengan adanya situs-situs itu seakan-akan diakan ingin mepublikasikan dirinya. Istilahnya ingin cari sensasi aja”celetuk Mama
“Kan ga semua orang Ma punya rasa percaya diri yang tinggi. Mungkin dia sebenarnya ga bermaksud untuk mencari sensasi, tapi dia hanya ingin bakat novelistnya itu tersalurkan dengan baik”jelasku yang mencoba memberi pengertian pada mama.
“Yah… sama aja itu namanya naïf. Coba de kamu pikir, dengan dia melakukan itu orang-orang akan memanfaatkan hasil karyanya dan mengaku kalo dia adalah pengarang situs itu. Mama ga menyalahkan cara dia untuk mempublikasikan Novelnya itu di internet Cuma pasti resiko yang akan dia hadapi jauh dari jangkuannya. Mama takut aja kalo dia dimanfaatkan oleh orang-orang”
“Jadi solusinya gimana???”
“Yah…lebih baik dia menerbitkan Novelnya ke Penebit”jelas Mama dengan santai.
Yah…Mama, itu dia masalahnya sekarang. Kurangnya kepercayaan dirinya terhadap apa yang dia miliki.
Aku menatap Mamaku yang masih asyik menonton acara gossip sambil menelaah arti dan tujuan omongan Mama tadi. Aku tau itu benar, tapikan ga semua orang bisa untuk percaya diri akan hasil karyanya sendiri. Meskipun sekarang udah terbukti kalo karangannya begitu diminati oleh banyak orang.
♥♥♥
“Pagi Vioja” bisik Karine kearahku sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Sssttt…kamu apaan sih” tungkasku dengan jutek namun dengan nada yang rendah
Karine tertawa kecil menatapku dan langsung menarik tanganku untuk mengajakku kekantin.
Yah…dia ini adalah sahabatku dari SMP. Dia adalah sahabat yang aku sayangi, karena Cuma dia yang bisa mengerti akan diriku, dan mau berteman dengan aku. Dia selalu berbagi cerita, dan aku hanya menjadi pendengar aja. Karine termasuk cewek yang cantik dan modis. Rambutnya yang keriting bergelombang membuatnya tampak begitu cantik, ditambah lagi matanya yang sipit. Karine jadi seperti cewek cina.
“Duh…Vi, karangan lo di internet lagi jadi bahan pembicaraan orang-orang. Bukan hanya dari orang-ke-orang, sekarang malah seluruh media mulai membicarakan lo” kata Karine dengan nada cemasnya yang terlalu berlebihan.
“Duh... Rin tenang de, mereka ga akan tau siapa pengarang yang ada diinternet itu. Dan pastinya kalo mereka tau siapa pengarang novel, gue yakin kalo mereka akan merasa kecewa dengan diriku yang seperti ini. Gue ga mau mereka kecewa hanya gara-gara siapa pengarang novel yang ada di internet itu”.
Karine menatap diriku dengan tatapan kasihan. Dan bagiku itu sudah biasa. Ditatapi dengan perasaan kasihan seperti itu.
Selang beberapa menit bel sekolah berbunyi.
♥♥♥
Aku mulai menulis judul dari novelku selanjutnya. ‘CINTAQ 100%’
“Yah…mungkin ini saatnya aku menulis novel tentang diriku” batinku sambil menatap laptopku.
“Aku adalah Viona Jasmine. Seorang cewek yang, jelek dan bertampang setara dengan Betty La Pea.
Yah...bisa dibayangin donkz bagaimana jeleknya tampang ku itu. Tapi itulah rahasia Tuhan, Dia ga ingin melihat hambanya selalu terpuruk akan dirinya. Tuhan begitu adil, sehingga Dia memberikan aku satu keluarga yang harmonis dengan keadaan ekonomi yang lumayan berlimpah, sahabat yang setia…yang selalu ada disaat gue butuh advice-nya dan supportnya.
Dan juga Talenta yang begitu membuat aku selalu mensyukuri atas apa yang telah Dia berikan padaku. Sebuah Talenta untuk mengarang sebuah cerita. Yah…cita-citaku ingin jadi Novelist yang terkenal. Seperti JK.Rowlling, seorang Novelist yang penuh imajinasi. Dan aku begitu menyukai hasil karyanya. Dan sampai-sampai aku mengoleksi cerita Harry Potter dari 1-7. Dan juga beberapa karya novel lainnya, seperti teenlit... dan ada juga beberapa pengarang yang ada di Indonesia sangat kukagumi. Misalnya aja Agnes Jessica. Semua karangannya udah aku lahap, dan ceritanya juga ga kalah jauh dengan pengarang luar negeri. Karya-karya yang udah aku baca membuatku menjadi suatu manusia yang penuh rasa syukur dan bangga. Karena dengan cerita, orang-orang akan rela menguras waktunya, uangnya hanya untuk membaca karya fiksi. Selama ini aku begitu ingin, ingin kalo suatu saat nanti karyaku ini dikenal orang. Dan tentunya aku mendapat honor, serta orang akan tau siapa jati diriku sesungguhnya.
Inilah adalah bagian dari diriku. Diriku yang begitu biasa aja. Tapi inilah aku. Dan aku bangga dengan kehidupanku yang seperti ini. Because it’s my life dan akulah yang menjalankannya.”
Dikehidupan percintaanku, aku ga seberuntung yang lain. Yang bisa dengan mudah mendapat dan melepaskan cintanya. Dan aku ga kedua-duanya. Yang bisa mendapatkannya dengan mudah dan melepaskannya dengan mudah juga.
Meskipun gitu aku juga tetap bisa menyukai seorang cowok. Seorang cowok yang udah hampir setahun aku memendam rasa ini. Namanya Alberto Prasetya. Seorang cowok belesteran Inggris-jawa ini membuat aku bisa terkelepek-kelepek kalo sedang berhadapan denganya. Tapi aku ga pernah yang sampe merasakan dadaku ini nyesek. Aku hanya merasakan kekaguman akan wajahnya yang begitu mahasempurna banget. Ntahlah...apa ini juga namanya cinta. Tapi kalo menurutku sih ga, karena cinta itu bukan diidentik dengan rasa kekaguman yang berlebihan.
Disekolah aku hanya seorang siswi yang biasa aja. Ga da istilah Most wanted the women de... hanya seorang siswa yang biasa aja, bahkan udah menuju nerd.
“Aku hanya butuh sorang cowok yang begitu mencintaiku apa adanya. Menerima segala kekuranganku dan kelebihanku. Seperti lagu Bunga citra lestari yang judulnya ‘Tentang kamu’. Imposible bangetkan. Tapi aku hanya ingin itu terjadi pada diriku. Cinta yang datang dengan adanya kata cinta”
♥♥♥
Aku melangkahkan kakiku dengan santai. Aku menekuk wajahku sambil menatap sekelilingku. Kami lagi ada warung makan di pinggir jalan.
“Kok lo bete gini sih???”Tanya Karine sambil melirik jam ditangan kirinya.
“Ga, gue lagi ngerasa agak penet ini soal novelQ. Lagi booring nih” rutukku dengan nada malas dan hape Karine berbunyi. Karine menjawab dan sekali-kali dia mengangguk dan juga berkata “Iya Ma, Karine ga lupa kok bentar lagi Karine kesana. Iya” telepon ditutup.
“Gue punya ide nih, gimana klo lo temenin gue jemput sodara sepupu gue” tawar Karine dengan semangat.
“…”
Karine mengangkat kedua alisnya sambil senyum-senyum dengan wajah mupengnya.
“Sodara sepupu darimana??” tanyaku
“Dari Bandung. Dia lagi liburan disini, untuk beberapa minggu. Soalnya bentar lagi dia mau sidang. Dia anak mahasiswa dari Bandung”jelas Karine.
“Yaudah de” jawabku yang masih nada yang malas banget.
***
Bandara Soekarno
14.15.Wib
Gue dan Karine menunggu kedatangan sepupunya. Sepanjang jalan Karine tak henti-hentinya membanggakan sepupunya yang ganteng bin keren nan imut. Yuh…aku jadi semakin penasaran gimana gitu dengan tampang sepupunya.
“Duh... Rin, mana nih sepupu lo??” rutukku dengan nada udah bosan.
“Benter donk Buk…”
“Ng..gue ketoilet yah, da ga nahan nih”
Karine hanya mengangguk dan dengan cepat gue melesat berjalan mencari toilet.
‘Ladies’
Aku segera masuk kedalam…dan selang beberapa menit gue selesai dan berjalan keluar. Begitu gue keluar dengan secara ga sengaja gue nabrak seorang cowok bertubuh ideal dan bertampang keren yang disertai dengan wajah juteknya.
“Jalan pake mata donk” kekinya abis dan memandangku dengan tajam. Aku mendengus kesal.
“Kamu donk yang jalan pake mata, kamu ga lihat apa badan segede gini” kataku berusaha lembut. Aku mengelus sikuku yang sedikit sakit.
Cowok itu menatap Viona dengan tatapan yang ingin membunuh. Awalnya sih takut tapi lama-lama dengan berani juga Viona membalas dengan menatap balik.
“Apa lo lihat-lihat” katanya lagi dengan nada jutek
“Lo tuh...” belum sempat membalas dengan kesel cowok itu pergi sambil tetep menatap gue dengan tatapan yang ingin bunuh gue.
Dari saku gue terdengar lagi J.rocks’I’m falling love’
“Kenapa Rin??”
“Lo dimana sih, nih sepupu gue dah disini”
“Oh... iya-iya”
Aku langsung melangkahkan kakiku. Sesampainya disana Karine lagi asyik berbicara dengan seorang cowok.
“Sorry ya Rin”kataku dengan nada nyesel
Mendengar itu cowok tadi membalikkan badanya kearah gue dan…
“Lo”kataku dengan nada bingung
“Ngapaen lo disini??”tanyanya dengan nada yang masih jutek
“Tunggu de ini ada apa sih??”Tanya Karine yg ga kalah bingungnya
***
“Hahahahaha….”suara ketawa Karine membuat sekeliling memandang kearah kami. Duh... nih anak bias ga sih dikontrol ketawanya, malu-maluin aja. Ntar dikira aku lariin orang gila lagi dari rumah sakit jiwa.
“Duh…Vie, lo harus maklum ma sepupu gue ini. Dia mank agak jutek, cuek…” putus Karine sambil melirik kearah sepupunya. Dia merasa tak enak karena udah ngomong gitu. Tapi sepupunya itu malah terus memandang Viona dengan tatapan tajam. Mungkin dia berpikir begini “darimanalah sepupu gue ini dapat teman seperti ini. Ya ampun...masih ada yah cewek bertampang cupu dan nerd gini. Ini udah tahun berapa sih...”
“Ya...terus angkuh, galak, dan egois”sambungku dengan nada yang masih kesal sambil menatap sepupunya Karine yang kaget karena mendengar kata-kata itu dari mulutku sehingga meledaklah gunung...“Apa lo bilang???” sengaknya sambil menatap Viona.
“Iya…Lo tuh angkuh,galak dan egois” ulangku dengan nada yang masih kesal sambil menatap kearah sepupunya Karine.
“Udah…ntar kalian saling jatuh cinta lagi” celetuk Karine
“Ga banget” serentak kami berdua dan langsung berpandang-pandangan.
“Tuhkan…ngomongnya juga barengan”ledek Karine
“Sampai kapanpun ga akan!!!!” rutuknya dengan kesal.
Aku menatapnya dengan pandangan yang gimana gitu, dan Karine mulai merasa sesuatu yang aneh. Aku tau semua cowok pasti akan mengatakan semua itu saat dia tau kalo seandainya jodohnya seperti aku. Cewek jelek yang berkaca mata tebal, yang bukan sama sekali tipe ideal dari cowok. Aku menaikkan kaca mataku sembari memakan ice cream yang ada didepanku. Aku begitu sedih mendengar hal itu. Kata-kata tajam itu menusuk sampai kehatiku, membuat rasa sakit yang dalam. Sekarang aku mengerti kenapa cinta ga pernah datang kepadaku. Itu karena, cinta juga merasa susah untuk memanahkan panah asamara ke para pria.
♥♥♥
Aku merebahkan badanku ini ketempat tidur. Tanganku dengan spontan langsung meraih laptopku yang ga jauh dari diriku. Aku membuka Laptopku dan mulai mengetik kembali.
“Kenapa gue masih nyesek gini sih” gumanku pelan sambil mendongak keatas. Nyesek bukan karena sakit hati, tapi ada sesuatu yang aneh dalam hatiku. Sesuatu yang beda, yang membuatku sampai-sampai harus menahan napas saat sepupu Karine memandangku dengan tatapan tajam.
Aku betul-betul masih belum paham akan arti cinta. Kenapa cinta bisa beda tipis dari rasa benci???
Aku betul-betul ga ngerti, kenapa cinta itu begitu luas definisinya. Tapi yang jelas cinta itu bukanlah suatu dosa yang harus kita jauhi…dan lari darinya.
“Kenapa dengan fisikku???
Kenapa cowok yang aku sukai ga pernah sekalipun melihat kearahku dan juga ga bias merasakan hadirnya diriku. Padahal aku begitu dekat dengannya. Apa mungkin aku terlalu berharap banyak agar dia mengetahui rasa cintaku yang aku pancarkan melalui mataku saat dia melihatku??. Kenapa dia seakan-akan mengatakan kalo aku ini seorang monster yang jelek yang ga boleh merasakan yang namanya cinta. Monster yang tak layak untuk dicintai dan mencintai. Seorang monster yang pasangan hidupnya juga seorang monster”. Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam agar penat dan sesaknya didadaku hilang walaupun hanya sekedar aja.
Buktinya hari ini, aku bertemu dengan sepupu dari sahabatku. Namanya Orlando. Lengkapnya sih Orlando Antonio Philipus. Emank dia keren dan…hampir menjadi tipe cowok yang begitu diidamkan hampir semua cewek yang akan haus ketampanan dan kekayaan. Bertubuh atletis, hidung mancung, berkulit agak sawo matang dan yang pasti sekali senyum membuat setiap cewek yang melihatnya bakalan meleleh. Apalagi tambah kalo dia tuh cowok yang romantis. Lengkap sudahlah tipe idaman para cewek. Tapi siapa yang sangka kalo dirinya begitu sangat nyebelin dan angkuh banget. Dah begitu ngomongnya selalu sinis dan penuh sindiran yang membuat aku tau kalo saat dia memandangku dengan tatapan yang gimana gitu rasanya ada hati yang teriris begitu pelan sehingga sakitnya bukan main. Aku tau kalo diapun merasa kalo aku bukanlah tipe ideal dari cowok. Kenapa malang gini sih nasib percintaanku. Ga pernah terbalas dan tersadari oleh orang yang gue cintai. Aku ingin orang yang aku cintai itu menyadari kehadiranku… hanya itu aja, aku ga butuh kalo dia harus merespond rasa cintaku ini. Mirisnya...
“Viona” panggil Mama dari bawah.
Bergegas gue turun kebawah dan menghampiri Nyokap gue yang lagi sibuk masak buat makan malam. Yah ginilah mamaku kalo lagi masak, abis hobinya masak. Bias-bisa isi kulkas habis dimasaknya hanya khusus untuk makan malam. Berbeda denganku, hal yang paling aku benci adalah masak, jadi tak heran kalo sampai sekarang aku belum bisa masak. Pernah sih aku disuruh Mama untuk masak, saat itu Mama-Papaku lagi jenguk Nenek di Bekasi. Aku kembali mengingat itu semua.
***
“Sayang… Mama-Papa pergi dulu, kamu jangan sampai ga makan lho. Mama pulang nanti malam”tutur Mama
Aku mengangguk pelan
“Dikulkas ada ikan yang masih mentah, kamu goreng aja ikan itu untuk lauk kamu hari ini” timpal Mama.
Mereka langsung pergi dengan taksi yang mengantar mereka. Aku membuka kulkas dan melihat ikan mentah yang dimaksud Mama. Aku menatap ikan yang namanya aku aja ga tau. Ikan itu cukup besar dan dagingnya tebal.
“Mungkin ini kali ikan gurami” kataku pelan. Ternyata itu adalah ikan tongkol. Aku memotong ikan itu dari tengah, setelah aku cuci aku langsung memasukkan ikannya kedalam minyak yang udah panas. Aku melemparkan ikan itu kedalam wajan. Minyaknya otomatis hampir menciprat kewajahku. Aku berlari meninggalkan masakkanku itu.
“Busyet, kenapa minyaknya menciprat-ciprat gitu sih” rutukku kesal sambil bersembunyi di belakang dinding dan menatapi ikanku. Aku ragu-ragu mendekati ikan yang lagi aku goreng. Minyaknya masih tetep meletup-letup.
”Hmm..bau apa ini, kok bau gosong”dengusku “Kyaaaaa….ikan ku gosong” teriakku dan lagsung membalikkannya dengan takut. Dan berhasil aku membuat ikan itu jadi betul-betul item banget.
“Iiueks...gosong banget” gumanku pelan
Dan dalam 30 menit satu ikan telah berhasil aku goreng dengan gosong sukses. Aku cukup lama menatap ikan hasil masakanku. Aku melihat kucing tetangga lagi mengelus-elus kepalanya dikakiku. Aku jongkok kebawah dan memberikan ikan gosong tadi pada kucing itu. Cukup lama kucing itu diam mendengus-dengus ikan gosongku. Dan langsung pergi sambil ‘meong-meong’. Maksudnya apa coba. Dan sejak itu aku malas masak kedapur. Malas banget deh, tapi untuk menikmatinya ga ada kata tidak dalam kamusku. hahaha
***
“Ada apa Ma???tanyaku seraya mencicipi kue kering yang ada dalam kulkas.
Mama melirik kearahku sambil menggeleng-gelengkan kepala dan menghela nafas yang panjang.
“Ada masalah apa Ma..??tanyaku dengan nada polos
“Kamu itu kerjanya makan terus, ntar gemuk lho…”celoteh Mama
“….”
Gemuk???wah…gue bakal jadi betty la pea 2009. Karena tampang gue dah hancur, plus diboboti dengan badan yang gemuk. Membayangkannya aja aku dah muntah, bagaimana orang-orang yang melihatnya. Gue yakin mereka pikir gue makhluk alien yang lagi kesasar.
Aku melangkahkan kakiku menuju ruang tivi. Aku menyalakannya, lalu sibuk mengotak-atik remote controlnya. Tanganku tak henti-hentinya mencari suatu hiburan yang menyenangkan. Akhirnya tanganku terhenti disalah satu channel, dimana Sponge bob square pants lagi sibuk membuat para penonton tertawa dgn tingkah laku yang konyol. Dari balik kaca mata tebalku aku menonton tingkah spongebob yang membuatku tertawa terbahak-bahak. 3 jam udah berlalu tanpa ada aktivitas yang gue lakukan, kecuali menonton tivi yang ga jelas. Aku beranjak dari tempatku dengan malas-malasan menuju kamar. Aku membuka laptopku, lalu membuka situs www.NovelQuntukMu. Blogspot.com, lalu aku menekan enter. Aku membaca koment-koment yang baru masuk hari ini. Semua komentnya berisi tentang karyaku selanjutnya. Karena dari beberapa dari mereka ingin cepat-cepat aku masukkan dalam situsku. Aku tersenyum sumingrah membaca semua koment yang masuk.
“HHhhhh…Andai mereka tau siapa pengarang novel yang selalu kalian banggakan ini. Aku yakin rasa kecewa kalian pasti lebih besar dari rasa kekaguman kalian selama ini. Aku membuka kaca mataku yang tebal itu dan berjalan kearah cermin yang tepat berada disamping tempat tidurku. Pantulan diriku jelas tergambar. Wajahku yang jelek dengan rambut panjang lurus yang kurang stylenya. Aku merapikan rambutku dengan menyisirnya, tapi hasilnya begitu aja. Aku mencoba tersenyum manies, tapi yang nongol adalah gigiku yang dipasangi pesawat gigi. Buruk banget, gumanku
“Pantas aja cintaku langsung pupus begitu saja. Mana ada cowok yang mau dengan cewek kaya betty la pea gini. Malu-maluin aja.” Aku kembali memakai kacama tebalku itu lalu kembali tidur dan mulai melanjutkan novelku.
Hari minggu…
Seperti biasa aku langsung bergegas pergi dengan sepadaku yang ga seberapa ini menuju rumah Karine. Begitu sampai aku langsung disambut oleh pembantunya. Karine adalah anak orang kaya. Papanya seorang arsitektur ternama di Indonesia, karya-karyanya pun sampai keluar negeri. Begitu juga dengan Mamanya yang tak kalah hebatnya, seorang Dokter. Aku langsung masuk kedalam kamarnya.
“Huh…dasar anak kebo” ledekku “Rine…bangung donk, dah jam berapa nih. Katanya lo mau nemani gue ketoko buku. Rine…” panggilku. Tapi reaksi pun ga ada. Alhasil aku langsung menarik selimut yang sedari tadi menutupi dirinya. Sejenak aku terdiam melihat orang yang sama sekali ga aku kenal dan….”Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”teriakku dengan lantang dan keras.
Orang itupun langsung bangun dan terlonjak kaget melihat diriku. Dari bawah Karine beserta pembantunya tergopoh-gopoh berlari menuju kamar yang sekarang lagi aku tempati.
“Ada apa nih??”Tanya Karine yang masih bingung
“Karine???”panggilku pelan sambil memandang Karine dan Orlando secara bergantian.
♥♥♥
“Hahahahahahha….” ledek Karine
“Ketawa aja lo. Puas lo sekarang”gerutuku kesal
“Sorry de…”
“Kok dia bisa tidur dikamar lo sih??”
“Hehehhehe….Oh, itu katanya dia ga bisa tidur kalo kamarnya ga ber-ac. Lagian di Bandung Orlando itu biasanya tidur pake ac”jelas Karine
Cih…sombonk banget tuh orang, pikirku. Duh…mana tadi aku melihat dia masih pake celana boxer yang pendek lagi. Hmmm…kacau nih semua. Pagi-pagi udah dapat kesan yang buruk darinya. Bias-bisa abis kali ini aku. Ditatapi terus dengan tajam dan menusuk itu.
“Lo tadi lihat ga???”Tanya Karine yang seakan-akan tau betul isi benakku.
“E..Ng…mak…maksud kau apa???”tanyaku gugup. Aku menunduk, wajahku memerah seketika. Duh...Karine kok bias baca pikiranku sih, emank tadi sempat lihat sih...untung dia langsung menarik selimutnya dan menutupi setengah badannya. Kalo diingat-ingat lucu juga tampangnya yang lagi kaget dan menahan malu gitu. Kaya anak kecil aja, Cuma sayang bedanya kalo anak kecil bertampang innoncent kaya malaikat lah dia kaya setan alias devil. Hehehe, batin Viona
“Udah ga usah boong, pasti lo lihat itunya kan….” putus Karine dengan tatapan menggodanya. Aku diam sejenak mencoba mengatur wajahku yang udah merah padam” pasti lo lihat dia lagi pake boxer gambar tazmaniakan???” sambungnya lagi.
“Hah…”jawabku dengan konyol
“Iya..sepupu gue itu suka banget ma Tazmania. Sampe-sampe dia kemarin liburan ke Amrik dan pulangnya hanya beli beberapa Tazmania”
“Lo ga usah cerita yang ga penting” suara ketus itu muncul dari muka pintu kamar Karine. Aku menunduk malu saat Orlando melintas didepanku. Aku mengatur nafasku yang mulai sesak.
“Sorry yah...” kata Karine dengan manjanya
Orlando menatap diriku dengan tajam.”Ng…maaf yah soal yang tadi” kataku dengan nada memelas.
“Gue…dah ternoda lo buat”katanya tiba-tiba.
What…ternoda??? Emank gue perkosa dia apa???umpatku dalam hati
Karine tertawa lepas mendengar itu. “Emank lo gue apain???”protesku kesal.
Orlando ga mengindahkan perkataanku, tangannya mengambil laptop yang ada diatas meja Karine.
Orlando pun membuka website www.NovelQuntukMu.Blogspot.com.
“Ngapain sih??”Tanya Karine pelan
“O…ini gue lagi buka website NovelQuntukMu”
Spontan aku langsung menatap Orlando yang lagi asyik membaca novel yang ada dalam situs itu.
“Ka..Kau suka juga dengan novel yang ada di situs itu??”Tanyaku pelan
“Hmmm…” jawabnya singkat. ”Tapi ada kekurangan sipengarang” katanya tiba-tiba.
Karine langsung menatapku dengan tatapan penuh Tanya. “Yah…kurangnya rasa cinta. Gue rasa VioJa nih ga pernah merasakan yang namanya pacaran. Dia ga tau bagaimana mendeskripsikan suasana saat dua orang lagi pacaran. Yang dia buat hanya ‘lagi asyik pacaran’. Itukan ga bisa mendeskripsikan apa yang terjadi. Gue rasa dia belom pernah pacaran...” jelas Orlando dengan gamblang.
Aku tertegun mendengar penjelasan Orlando yang gamblang itu. Aku akui itu benar, bagaimana aku bisa menceritakan suasana pacaran kalo akunya aja lom pernah ng-date. Belum pernah merasakan yang namanya kencan dengan romantic dibawah bintang-bintang yang bertaburang dengan indah. Dan sekarang lagi nge-ternd kencan dikapal pesiar. Siapa sih yang ga mau, aku juga pasti ga akan menolak ‘bila’ ada yang mengajakku. Tapi masalahnya belum...dan aku ga tau rasanya bagaimana saat sepasang kekasih lagi berpacaran. Apa yang mereka obrolin, apa yang mereka lakukan, hal romantic apa yang terjai diantaranya, batin Viona dengan kesal.
“Tapi gue suka ceritanya, meskipun sebagian ada yang monoton” sambungnya lagi dengan nada santainya.
“Menoton??” tanyaku agak kesal. Monoton apanya??? Kayaknya Cuma dia deh orang yang berani komentnya seperti itu. Plis deh...
“Iya..monoton” ulangnya lagi “Nih..disalah satu judulnya Pliz Love me once again. Disini kentara banget monotonnya. Ceritanya terlalu melebar ga jelas, akhirnya ditengah jalan, cerita cinta antara Andre Forester dengan Emelia sedikit agak membosankan. Disini juga tentang Rey. Sebenarnya Rey itu masih ada rasa ga sama Mariana, soalnya selama dipertengahan cerita Rey tiba-tiba aja selalu mengejar Emelia, kok akhirnya tiba-tiba Rey jadian dengan Mariana lagi”
“Eh... itukan mank Rey-nya yang masih cinta ama Mariana, disitu juga ditulis jelas-jelas kalo Rey selalu ditolak Mariana, hingga akhirnya Rey mencari pelampiasan kepada cewek-cewek, agar rasa sakit hatinya pada Mariana ga terlalu mendalam. Dan lagipula diakhirnyakan emank kenyataan kalo Mariana itu mank masih cinta ma Rey” jelasku dengan mantap dan sedikit bangga.
Orlando menatapku dengan tatapan susah untuk aku mengerti. Tiba-tiba aja alisnya berkerut memandangiku.
“Ke..kenapa kau lihat aku begitu??”
“Ah…gue hanya berpikir kenapa lo lebih tau banget isi cerita dari VioJa ini. Seakan-akan lo yang VioJa itu…”
“Hah…”
“Hahahahahahhaha…….Tapi itu ga mungkin banget. Secara kalo lo VioJa itu bisa-bisa para pembaca setiamu bakalan kecewa!”
DEG!!!
Mendengar itu diriku bagaikan disambar petir. Aku ga bisa memprotes atau pun mengeluh, karena apa yang dikatakannya itu benar. Benar sekali, itulah yang aku takutkan… ketakutan yang selama ini menghantuiku bila ada orang lain selai Karine yang mengetahu identitas VioJa. Aku gak mau nantinya orang-orang yang udah senang dengan hasil karyaku tiba-tiba aja merasa kecewa lantaran pengarangnya seperti aku ini. Dan pastinya orang-orang akan selalu melihat dengan sebelah mata dan selalu menghina hasil karyaku. Dan aku belum siap akan hal itu.
“Orlando!!!” kata Karine sambil menatap Orlando dengan tatapan marah sekaligus sebel. Orlando menoleh kearah Karine yang tampak begitu marah banget. “A..Aku permisi pulang dulu.” Aku berlari keluar dan langsung mengayuh sepedaku dengan kencang. Tanpa aku komando lagi, air mataku langsung mengalir begitu aja. Aku baru sadar, kalo selama ini aku buta dengan semuanya. Aku gak pantas untuk jadi VioJa, meskipun itu semua hasil karyaku. Aku betul-betul bodoh, kalo selama ini orang-orang pastinya akan lebih kecewa dengan jati diriku sebenarnya.
“Kok..dia langsung pulang sih?”Tanya Orlando bingung.
“Lo tuh apaan sih, punya mulut pedas banget. Lo ga da perasaan sama sekali!!!”pekik Karine
“Loh…maksudnya apa nih, loh mank bener kalo sampe dia VioJa bisa-bisa para pembaca setia selama ini bakalan kecewakan. Manknya dia VioJa apa?!!!?”
“Iya…dia VioJa. Lo tau apa VioJa itu???”Tanya Karine ketus
Orlando terdiam menatap sepupunya yang lagi emosi jiwa banget.”VioJa itu nama nya. Viona Jasmine”
Bagaikan tertimpa batu, Orlando terpelongo mendengarkan perkataan sepupunya itu. ”Jadi... teman lo tuh…VioJa?Penulis NovelQuntukMu???” tanya Orlando dengan nada terbata-bata. Dia ga percaya akan perkataan sepupunya itu. Matanya membelak dan dia menelan ludah dengan sekuat tenaganya itu.
“Sekarang Lo puas da nyakitin dia??”
“…”
“Lo tega banget. Lo tau ga kenapa dia lebih memilih mempublikasikan karyanya diinternet?” Orlando hanya menggelengkan kepalanya.”Itu karena dia merasa kalo dirinya ga sempurna untuk menjadi seorang Novelist. Seorang Novelist yang dia cita-citakan. Selama ini semua teman-teman menganggap Viona hanyalah seorang cewek yang jauh dibawah standar aja. Tampang maupun kepribadiannya ga mendukung dia untuk menjadi seorang layaknya wanita yang ingin dicintai oleh pria. Dia sadar akan kekurangannya itu, hingga akhirnya dia ingin membuat suatu hal. Dia ingin menjadi seorang Novelist yang hanya bisa mempublikasikan hasilnya diinternet. Agar orang-orang ga memandangnya dengan tatapan yang membuat hatinya miris.”
♥♥♥
Air mataku tak henti-hentinya mengalir. Mataku pun jadi sembab. Aku membuka kacamataku lalu menghapus air mataku dengan tisu. Kata-kata yang menusuk itu masih menerawang dalam pikirku. Otakku ga mampu menghapus kata-kata itu. sulit untuk dilupakan, namun sakit untuk diingat.
Aku…aku…apa betul aku seburuk itu. Apa betul klo diriku ga pantas menjadi Vioja?? Aku menghapus airmataku dengan tisu lalu membuangnya dengan sekenaknya.
Satu jam berlalu sekarang kamarku menjadi sampah tisu. Dimana-mana tisu, dan parahnya itu semua bekas airmataku dan ingusku…wekzzz..
Aku benci diriku yang begitu buruk. Semua buruk!!! Apa yang bisa kubanggakan dari diriku??? Pintarnya diriku mengrangkai kata sehingga bisa menjadi sebuah cerita yang disatukan menjadi sebuah novel??? Aku tau kalo jaman sekarang ini baik pria maupun wanita…melihat orang itu paling utama adalah tampangnya, hartanya, dan kepribadian apa yang dimilikinya!!! Itukah cinta yang aku cari??? Ga!!! Aku mencari cinta…cintaku yang 100%. Dimana dia menerima kelebihan maupun kekuranganku, begitu juga aku sebaliknya. Istilahnya mencari yang terbaik. Selama ini aku selalu berharap kalo Tuhan dengan pasti memberikan aku seorang terbaik. Seorang yang dapat menopang aku, membimbing aku, dan mendorong aku menjadi seorang wanita yang punya kelebihan. Bagaikan itik buruk rupa yang berubah menjadi angsa putih yang cantik dan menawan. Dimana kelebihananku menjadi kekuranngannya, dan kelebihannya menjadi kekuranganku. Dan aku berharap seseorang itu yang terbaik, baik untuk diriku, Tuhanku, orang tuaku dan juga sekelilingku.
Tapi bagaimana kalo itu tidak seperti yang aku harapkan??? Temanku pernah berkata, perkataannya itu membuat semangatku runtuh bagai ditimpa gajah…”Jika kita ingin mendapatkan yang terbaik dari yang terbaik, kita harus mendapatkan yang terburuk dulu. Karena dari yang terburuk itulah kita tau mana yang terbaik untuk kita.”
Awalnya aku ga terima akan hal itu, tapi setelah aku pikir-pikir, iya juga yah... Gimana kita tau dia yang terbaik untuk kita kalo yang terburuk belum pernah kita dapatkan, belum pernah kita rasakan. Jujur…aku takut. Takut…kalo selama ini yang selalu aku harapkan yang terbaik dari Tuhan, malah yang aku dapat keburukkannya. Aku ingin Tuhan memberikan aku seorang pria dimana satu tulang rusukku ini adalah miliknya. Bahwa dialah yang kelak akan jadi jodohku nanti.
Oke! Semua itu terkabul. Tuhan memberikan seorang pria yang terbaik, sesuai dengan apa yang aku harapkan! Tapi…apakah aku yang terbaik bagi dia??? Apakah aku sesuai dengan harapannya??? Apakah dia mau dengan diriku ini??!! Selama ini aku hanya berharap dari apa yang kuharapkan untuk diriku saja. Hanya terbaik buatku saja ga untuk dia! Ga untuk kita bersama!!! Aku takut kalo pemilik satu dari tulang rusukku ini akan lebih shock dibandingkan aku, dari dugaanku. Bahkan dia yang lebih terpuruk daripada aku!!!
Lalu…apa yang menurutku seorang pria yang terbaik itu!??!!
Terbaik apa??? Hati??? Materi??? Mana yang aku harapkan???
Aku sendiri aja bingung terbaik mana yang aku harapkan. Hatinya???
Pernah temanku memberikan suatu pilihan. “Kau akan milih mana, hatinya yang baik, bersih tapi dari segi wajah dan materi pun ga mendukung.. Ato kamu memilih seorang cowok yang hatinya busuk dan mempunyai sikap yang playboylah istilahnya sehingga setiap saat kamu makan hati sama dia, tapi wajahnya ganteng bagaikan Brad Pritt dan dari segi materi pun mendukung”
Aku langsung mengatakan “Lebih baik aku memilih dia punya hati yang baik meskipun tampangnya dan materinya ga mendukung”
“Yakin??”
Aku langsung mengangguk dengan mantap
“Kau salah, aku akan memilih dia yang kaya meskipun aku tau sifatnya buruk. Dengan uang kita dapat merubah semuanya, baik itu wajah dan pribadinya yang jelek sekalipun. Kalo kamu memilih orang kayak itu kamu hanya akan selalu merasakan lebih sakitnya makan hati. Karena jaman sekarang cinta itu semuanya hanya dilihat dari luar, bukan dari dalam!!
GLEGAAAARRRRR!!!!!
Betul-betul bagai disambar petir. Apa seperti itu. Kalo aku diposisikan, aku diposisi mana??? Hatiku ga baik ,ga juga bersih, dan hatiku juga ga sampai sebususuk itu. Tampangku yang ada malah hancur dan dari segi materi pun aku ga ada yang mendukung. Bukan salah satu dari pilihan orang-orang.
Aku bertopang dagu menatap kata-kata yang ada dilaptopku. Aku menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan pelan. Seakan-akan isi penat dalam hatiku berkurang. Sedikit. Aku tertawa miris membaca apa yang telah aku tulis sendiri. Seburuk itukah diriku… Apa benar orang-orang hanya melihat orang itu dari sisi luarnya aja. Ga dari hati maupun cintanya. Tapi…aku yakin meskipun itu hanya ada 30% dari 100 orang, setidaknya masih ada yang melihat orang dari hatinya dan cintanya, bukan dari fisiknya dan materinya. Aku harap aku bisa menjadi orang yang beruntung, mendapatkan orang yang mencintaiku dari dalam hatinya yang timbul. Bukan pengaruh fisik dan materinya.
♥♥♥
Pagi itu dengan wajah yang super jelek aku berangkat sekolah. Padahal matahari lagi tersenyum cerah menyambut semua orang yang ingin semangat di pagi hari. Membuat hati miris aja. Semua pada semangat dipagi hari, aku malah masang wajah yang super-duper jelek. Udah jelek, dijelekin lagi. Nasib nasib.
Dengan wajah masam aku masuk dalam kelas.
“Vie”panggil Karine dengan nada yang ragu-ragu
Aku menoleh dengan wajahku yang masam abiez. Bagaikan jeruk purut de”Kenapa?” tanyaku dengan nada yang agak ketus
“Lo masih marah yah ma perkataan Orlando?”
Aku menggelengkan kepalaku dengan pelan dan raut wajahku berubah menjadi sedih. Mank aku ga marah, Cuma kesel aja dengan kata-katanya yang udah menyadarkanku dengan telak bahwa aku ini ga pantas untuk jadi Vioja. VioJa yang terkenal, yang karyanya yang lagi membuming.
“Perkataan Orlando bener, aku aja yang ga siap menerimanya. Padahal kenyataannya lebih menyakitkan dibandingkan perkataannya yang tempo hari.”jelasku dengan sedikit ragu tapi dengan nada yang pelan.
“Vie…”
“Udahlah aku sadar siapa aku. ‘VioJa’ yang menyerupai Betty la Pea” kataku berusaha untuk menyakinkan. Tepatnya menyakinkan diri sendiri.
Tersirat dari wajah Karine pandangan yang sangat bersalah sekali. Dan aku hanya menghela nafas. Sesungguhnya perkataan Orlando itu bagai cambuk yang membangunkan rasa motivasiku. Setidaknya dari kata-katanya yang tajam nan menusuk itu, aku bias menambah berbagai perasaan saat menulis novel. Dilembaran kosng, aku mulai merangkai kata demi kata. Entah kenapa, sekarang rasanya aku begitu ringan menulis novel ini. Diakhir pelajaran aku terus menghela nafas sampai petugas sekolah membunyikan lonceng sekolah yang menandakan pulang. Disekolah prestasiku ga bagus-bagus dan ga buruk-buruk amat. Dari peringkat untuk seluruh kelas aku di peringkat 20/289 orang. Beda halnya dengan Karine 10/289.
Aku berjalan santai keluar kelas bersama Karine. Hari ini Karine berencana mentraktirku makan ice cream ditempat favoriteku. Alasannya sih, permintaan maaf akan perkataan sepupunya. Bagiku yang sangat menyukai Ice cream-coklat, mah mau-mau aja. Yang penting gratis deh.
Ice Cream Lezat
Mobil Karine pun terpakir tepat didepan. Aku turun dan berbarengan berjalan masuk bersama Karine. Aku memicingkan mataku saat menatap kedepan.
“Hai..sorry lama”kata Karine dan langsung duduk tepat didepan orang yang disapanya
Orlando…pikirku
Orlando menatapku dengan tatapan yang sama sekali ga ku mengerti. Dan anehnya dadaku seakan-akan berdegup kencang saat ditatap begitu. Aku mengatur nafasku lalu memberikan senyuman yang sekilas saja.
“Mau pesan apa Vie??”Tanya Karine
“Aku biasa aja. Yang pasti ga ada vanillanya de”kataku pelan
Karine pun menyebutkan pesanan itu kepada pelayan lalu pelayan pun pergi. Lagi-lagi Orlando menatapku lalu langsung memalingkan wajahnya saat aku melihatnya.
Dia..kenapa sih???gumanku dalam hati
Pesannan itu pun datang. Satu gelas besar ice cream itu memenuhi sampai-sampai memuncak. Dan diatasnya ada cerry lalu disisi kiri ada 2 astor yang panjang.
“Vie…”panggil Orlando pelan
Karine menoleh kearahku lalu menatap Orlando. Aku menghentikan tanganku saat aku hendak mau makan ice cream ketika Orlando memanggilku.
“Gue..minta maaf ya atas perkataanku yang kemarin. Sungguh kata-kata itu begitu aja keluar dari mulutku dan aku susah untuk mengontrolnya”jelasnya mantap
Aku terpelongo mendengar itu. Aku diam selama 10 menit merimang-rimang kata-kata yang barusan keluar dari mulut Orlando. Orlando minta maaf?? Ama gue??? Ga salah dengarkan gue! Apa dia punya tujuan jahat, yah... bisa aja dia ingin lebih buat aku makin terluka dengan kata-kata’manisnya’itu, pikir Viona
“Kok lo diem?” Orlando bersuara lagi tapi dengan menatap Viona.
“Ah…aku…ng… seharusnya kamu ga perlu untuk minta maaf. Aku malah mendapat suatu motivasi dari perkataanmu kemaren”jelasku dengan penuh kebohong. Motivasi apaan???Jelas-jelas aku menangis semalaman memikirkan kata-kata itu, batinku. Lalu aku memasang tampang senyum merekah kepadanya.
“Hmm….emank kata-kata seorang Novelist ini susah untuk dipercaya ya”katanya sambil menatap tajam kearah Viona
Hah..maksud Orlando apa?? Kata-kata seorang Novelist???
“Ng…Vie, kemaren aku dah keceplosan”kata Karine menimpali
Aku jadi semakin bingung dengan mereka berdua. Maksudnya apa sih… please de jangan buat aku kaya orang tolol sedunia.
“Viona Jasmine, ato Vioja”kata Orlando dengan mantap sambil menatap aku dengan tatapan penuh dengan kelembutan dan senyuman yang manis.
“Hah…lo” aku langsung menoleh kearah Karine yang memasang tampang merasa bersalah plus cengiran.
“Sorry…aku kemaren keceplosan, ga maksud gitu kok. Tapikan aku dah nebusnya dengan mentraktir dirimu makan ice cream ini”
“Hah..pliz de. Jadi ini semua karena lo da buat salah. Sial banget diriku”gerutuku kesal
“Hehehehehe…sorry de beiph” Karine langsung merangkulku.
Aku tersenyum. Yah…apa boleh buat, toh sekarang itu ga mengubah apa-apa. Yang ada sekarang aku harus tunjukkan pada Orlando karyaku yang ga monoton dan semuanya dengan alami. Karya yang natural.
Aku diem-diem memandangi Orlando yang lagi asyik makan ice cream dan bercanda dengan Karine. Kalo tertawa gini dia seperti anak-anak. Lucu…
Upz…aku mikir apa sih??? Pliz de Vie, lo tuh bukan tipe dia sama sekali. Angan-angan lo tuh terlalu tinggi dan matikanlah harapanmu itu Vie sebelum semuanya jadi tambah berkembang lebih jauh. Dan yang akan kau dapatkan hanyalah sakit yang tak terobati, bisikku dalam hati.
Pulangnya aku diantar ama Orlando karena Karine masih ingin ketemu dengan pacar barunya. Sebenernya belum jadi pacar, tapi ‘akan-mau-jadi’ pacar. Beruntungnya Karine. Beda banget sama ku. Yang ada malah malas-ogah-banget orang-orang punya pacar kayak gue!
“Udah sampe. Thanks”kataku pelan dan membuka pintu mobilnya.
“Ng…”Orlando spontan memegan tanganku. Lagi-lagi jantungku berdegup kencang ga karuan saat aku menoleh dan ditatap oleh Orlando dengan tatapan yang aneh. Aku ga mengerti akan tatapan cowok. Apalagi ditatap seperti itu, rasaanya jantungku berdegup ga karuan, dan bulu romaku merinding jadinya. (idih, perasaan. Padahal Orlandonya mah biasa aja natap Viona. Dasar Viona-nya aja yang ke-ge-er-an)
“Gue..harap kita bisa berteman”
Aku menahan nafasku lalu dengan cepat aku mengaturnya lagi “Iya…aku senang punya teman seperti kau, apalagi kata-kata kau itu terlalu menusuk dan bisa memotivasi aku” meskipun aku harus menangis semalaman dulu, sambungku dalam hati.
“Hahahaha…gue janji bakalan mengontrol semua kata-kataku”janjinya sambil tersenyum manis.
DEG!!
Oh…Tuhan aku sudah ga tahan lagi “Aku..masuk dulu yah” aku langsung keluar dari mobil itu dan cepat-cepat masuk kedalam rumah. Orlando terdiam saat menatapi tangannya yang udah memegang tangan Viona, lalu tersenyum aneh dan menggelengkan kepalanya. Mobil itu pun melaju dan hilang diperbelokan perempatan.
Huh…aku, ada apa denganku. Kenapa rasanya dadaku begitu mensesakkan. Aku…kenapa aku ga bisa mengontrol hatiku yang semakin bergumuruh ga karuan.
Tuhan..matikanlah harapanku ini. Karena aku tau apa yang aku harapkan ga bakalan terjadi. Rasa ini beda dari perasaanku saat pertama kali aku menyukai Alberto Prasetya… Aku sesak!!!! Dan rasanya betul-betul ga enak banget. Aku ga bisa nafas. Aku berlari menuju kamarku.
Pulang dari sekolah aku berpisah sama Karine. Karena aku mau ketoko buku bekas mau mencari novel-novel yang harganya murah. Aku mulai berkeling-keliling mencari buku itu. Banyak buku yang ditawarkan para pedagang itu. Tapi aku sama sekali ga tertarik karena sebagian yang mereka tawarkan udah aku miliki.
“Vie” sapa seorang pedagang yang umurnya cukup tua dengan suaranya yang lantang.
“Siang Pak Torus” sapaku sembari menaikkan kacamataku. Aku berjalan menghampiri tokonya.
“Hari ini kau mau cari buku yang bagaimana??”tanyanya dengan nada logat yang batak kali.
“Ng…aku bingung nih Pak. Karena aku ga tau buku apa yang lagi aku butuhkan”
“Macam mananya kau itu. Sekarang ini kau lagi buat novel yang macam mana???”
“Aku lagi buat novel yang isinya tentang kehidupanku. Tentang pencarian arti cinta dalam hidupku”
“Bah…memangnya cinta yang bagimana kau cari??”
“Hah..aku juga bingung Pak Torus”
Pak Torus pun diam sejenak sambil sibuk mencari-cari sesuatu. Pak Torus ini adalah orang batak asli Medan yang merantau keJakarta. Karya-karyaku selama ini ga lepas dari bayang-bayangan Pak Torus. Pak Torus mengerti sekali tentang sastra. Beliau dulunya adalah lulusan Sastra Indonesia dari salah satu Universitas yang ada diMedan.
“Nah..kau cobalah dulu dengan buku ini. Baca-baca sajalah dulu. Kau boleh bawa pulang”
Buku itu tampak begitu lesuh, dan sampulnya pun terkelupas-lupas sana-sini
“Makasih Pak Torus”
‘Kiat Cinta’
♥♥♥
Aku terhempas dengan mantap diatas tempat tidurku. Aku mengambil tasku lalu kurogoh dan mengambil satu buku. ‘Kiat Cinta’
“Kok ga ada pengaranga sih???” aku membolak-balik buku itu.
Cinta…
Janganlah engkau mengejar cinta…
Tapi biarkan cinta yang datang padamu…
Karena cinta itu akan jauh apabila kamu mengejarnya…
(by: pujangga cinta)
Huh…aku juga tau. Semakin kita kejar cinta itu, cinta itu akan semakin jauh.
Dulu sewaktu aku duduk di SMP, aku punya seorang teman. Anaknya ga terlalu cantik dan tak terlalu jelek. Lumayanlah jika dibandingkan aku. Meskipun aku ga akrab dengan dia. Dia punya 2 teman yang kompak banget. Mereka selalu kemana-mana, makan, jalan, bahkan dikelas pun mereka duduk berdekatan. Teman aku itu namanya Eva. Lengkapnya Evalina Maharani. Anaknya juga agak gila banget. Gokil gitu de. Jadi saat SMP itu dia menyukai Kakak senior kami. Dia Kelas3. Menurut dari ceritanya, kakak senior yang bernama Bintang itu anaknya pinter, pendiam agak pemalu dan klo berteman dengan cewek agak pemilih. Tampangnya pun lumayan diatas standard. Kak Bintang punya sepupu yang bernama Febri. Sepupunya ini seangkatan dengan kami. Gayanya juga sok gitu deh. Dan mereka menyebut ketiga teman aku dengan sebutan ‘AbThree…ditengah-tengah jadi babi.’ Wuh….bagaikan diinjak-injak harga diri Eva saat itu. Dirinya dianggap babi, karena setiap berjalan bersama temannya itu dia selalu ditengah. Tapi kata-kata itu ga membuat Eva patah semangat. Dia tetep mengejar Bintang. Kemana Bintang, Eva dan temannya selalu mengikutinya. Terkadang mereka bertemu ga sengaja. Yah…tepatnya ketidaksengajaan yang dia ketahui. Contohnya, Bintang selalu keperpustakaan dan itu diketahui oleh Eva dan teman-temannya. Semenjak itu Eva dan teman-temannya jadi lebih sering keperpustakaan. Debaran itupun ga bisa dipungkiri saat Bintang juga melirik kearahnya. Saat itu Eva ge-er setengah mati. Tapi semakin lama, waktu berlalu ternyata semuanya itu berubah menjadi aib yang membuat Eva terpuruk. Tiba-tiba saja salah satu teman Febri yang kebetulan akrab dengan Eva nge-sms sepupu Eva. Namanya Laura. Laura nge-sms sepupu Eva yang juga dikenalnya, yang nama sepupunya Ruth.
‘Ruth, ini Laura. Aku Cuma ingin memberitahukan kalo Bintang ketakutan lantaran dikejar-kejar sama Eva. Aku tau ini dari sepupunya Bintang. Jangan beritahu sama Eva ya, aku takut nantinya terjadi apa-apa’.
GLEEGAAAR!!!!
Pesan itu jelas-jelas dikirim sama Laura. Aku betul-betul speechless banget membacanya. Saat itu juga aku berusaha berhenti suka sama Bintang. Dan saat itu juga sms itu datang. Datang pada Ruth bukan padaku!!! Aku saat itu juga malu banget sama sepupu aku itu. Besoknya aku langsung nyamperin Laura dan meminta penjelasannya. Dan bener katanya Bintang takut lantaran aku kejar-kejar. Aku betul-betul shock abis mendengar itu semua. Dan sejak itu aku berusaha untuk mematikan harapanku pada setiap cowok yang aku sukai. Aku ga mau orang yang aku sukai ketakutan gara-gara aku.
‘jangalah terlalu mengejar cinta. Karena cinta akan lari padamu.
Janganlah terlalu mengejar orang yang kamu sukai. Karena orang yang kamu sukai akan ketakutan padamu’.
Aku menghentikan jemariku. Aku mengangkat kedua tanganku keatas lalu aku gerakkan kekiri-kekanan. Begitu juga dengan kepalaku
“Wow..bukunya memotivasi banget”gumanku pelan.
Terdengar dari saku lagu J-Roks I’m fallin in Love’. Didisplay muncul nama Karine.
“Yah..halo”sapaku pelan
“Vie..kerumahku donk. Hari ini Orlando masak kue brownies nih. Lo harus coba, karena kue buatan Orlando dahsyat deh…”puji Karine dari sebrang telepon “Sekalian gue mau cerita sesuatu nih”sambungnya lagi dengan nada malu.
“Yah..”aku langsung memutuskan telepon itu. Cerita yang baru aku ketik tadi aku save-kan. Dan langsung bergegas pergi. Aku mengeluarkan sepeda kesayanganku dari bagasi dan meluncur dengan santai. Alun-alun angin sepoi membelai wajah Viona. Rambutnya pun berterbang-terbangan. Rumah Karine dan Viona jaraknya hanya 3 blok. Begitu sampai, kakiku langsung menuju dapur. Didapur Orlando lagi sibuk membuat adonan. Tampangnya pun blepotan, tapi sisi kekerenannya ga pudar sama sekali.
“Oh..hai Vie, lo da nyampe. Tunggu bentar yah, gue baru buat adonannya nih”jelasnya sembari memasukkan tepung kedalam adonan yang telah tercampur dengan bahan-bahan yang lain. Aku senyum-senyum kecil menatap Orlando yang blepotan oleh tepung sana-sini ditambah dengan memakai clemek. Mana warnanya pink gitu. Hahaha...
“Oya…Karine mana??”
“Tuh…daritadi sibuk telepon-teleponnya sama pacar barunya”
Owh…jadi Karine jadian juga dengan cowok yang lagi pedekate dengannya.
“Vie..tolong ambilkan tepungnya lagi donk. Sepertinya kurang nih”pinta Orlando.
Aku melangkah pelan mengambil tepung tepat dilemari yang ga jauh dari tempatnya berdiri.
“Cepatan”
Aku langsung berburu-buru menghampirinya, tapi saat mendekatinya aku langsung terpleset dan spontan aku menarik lengan baju Orlando dan BRUKKK, kami berdua jatuh. Aku jatuh tepat didadanya dan menimpa dia. Kacamataku pun terjatuh, wajahnya yang keren samar-samar aku lihat. Tepung-tepung itu kini berserakkan dimana-mana. Degup jantungku betul-betul ga bisa aku control. Dan aku tau pasti Orlando mendengar itu semua.
“Ah…maaf”kataku pelan lalu beranjak dan duduk disebelahnya dengan manis.
“Hm….”
Aku memakai kacamataku dan mencoba berdiri “Aku jadi membuat repot”
“Yah…tuh sampai-sampai semuanya berserakkan” katanya dengan agak ketus.
“Iya..sorry. Aku akan membersihkannya.”
“Ga usah, biar bibi aja yang bersihkan itu semua. Lebih baik lo bersihin badan lo yang dipenuhi tepung tuh”
Aku bergegas pergi kekamar Karine. Orlando menatap punggung Viona sampai Viona menghilang. Orlando pun memegang dadanya kemudian menghela nafas.
“Karine”panggilku pelan
Karine menatap aku sambil memegang handphone yang masih standby ditelinganya. Mulutnya ternganga, dan sekali-kali matanya berkedip melihat Viona bertampang blepotan.
“Viona lo kenapa???”katanya panic “Yang, udah dulu ya nanti aku telepon lagi” Karine langsung memutuskan teleponnya begitu aja dan segera menghampiriku lalu menatapku dari atas sampai bawah
“Kenapa lo jadi hantu tepung gini??”
“Tadi niatnya mau Bantu Orlando, e…yang ada aku malah membuat semuanya kacau.”jelasku pelan
“Ya udah, lo mandi dulu. Ntar gue pinjamin baju”
♥♥♥
“Hahhahhah..emank tuh Viona anaknya agak ceroboh.”kata Karine
Suara ketawa itu terdengar agak samar-samar. Aku keluar dari kamar Karine. Rambutku aku terurai begitu aja. Rambut lurus semampai itu sebahagian masih basah. Viona tampak agak berbeda. Karena biasanya Viona enggan banget menggerai rambutnya yang panjang. Rambutnya selalu dikuncir kuda.
“Nanti aku balikkan bajunnya ya” aku melangkah mendekati Karine dan Orlando. Orlando sekilas memandang Viona yang sedikit berbeda dari biasanya. Mau ga mau Orlando tersenyum tipis.
“Yah…”
“Aku, sekali lagi minta maaf yah. Gara-gara aku semuanya jadi kacau”
“Yaudahlah. Mau diapain lagi. Oya…bentar lagi kue browniesnya mau masak nih. Nah…putrid-putri tunggu dulu yah…”katanya
Aku mengikuti Karine keruang tamu.
“Ng…Vie, aku dah jadian ma Thomas”katanya pelan, tepatnya sih berbisik
“Wah…bagus donk” mendengar itu Karine tersenyum lebar. Karine beruntung yah, bisa mendapatkan cowok yang bener-bener dia harapkan dan dia sukai. Beda dengan aku yang hanya bisa menunggu. Dan hanya menunggu sampai waktu itu tiba.
“Dan..katanya besok gue mau ngedate nih. Gue ga sabar jadinya”
Hmmmm
Dari kejahuan Orlando datang dengan kue browniesnya.”Nih…Silahkan”
Aku mulai memakan kue itu. pelan-pelan aku mengunyahnya.”Enak…Delicious”kata Karine. Dan aku mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Karine. Orlando tampak begitu senang.
“Sepupu gue ini mank jago banget kalo masak, makanya itu gue rasa istrinya itu bakalan beruntung punya suami yang jago masak gini”kata Karine
Jadi istrrinya???Hmmmm…yah pasti beruntung banget punya suami seperti Orlando. Dah ganteng, pinter lagi masaknya. Manalagi masakannya enak gini... duh mikir apa sih aku ini, gumanku pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Lo kenapa Vie???”Tanya Karine bingung
“Ah…ga kok, saking enaknya kue ini gue sampai ga bisa comment”elakku. Duh ngomong apa sih aku ini.
Aku menarik napasku dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. Dari luar, Mamaku memanggilku dan langsung masuk. Hari ini hari sabtu, jadinya sekolah ga aktif karena biasanya sekolah aktif 5 hari belajarnya.
“Yah, Ma ada apa??”tanyaku seraya memakai kacamata tebalku
“Gini…Mama mau buat kue brownies tapi ga yakin nih, soalnya Mamakan lom pernah buat kue Brownies”jelas Mama dengan nada bingung.
“Terus???” tanyaku ga minat.
“Kamu punya kenalan ga yang pinter banget buat browniesnya. Soalnya ntar sore teman Mama dari Padang mau main-main kesini”
Aku mencoba berpikir, dan dalam waktu singkat otakku langsung menyebutkan nama ‘ORLANDO’. Aku buru-buru menghilangkan itu semua. Tapi otakku mank payah, nama itu tetep aja mangkring dalam memori-memori yang ingin aku hapus. Bagai virus aja yang ga bisa dihapus dengan gitu aja.
“Ada sih Ma…”kataku pelan tapi aku ragu. Aku sebentar melirik mamaku, lalu menhela nafas pelan.
“Siapa??”Tanya Mama antusias
“Ng…sepupu Karine. Soalnya kemaren tuh dia baru buat brownies”
“Kalo gitu sekarang kamu kerumah Karine, kamu pinjam aja sepupu Karine itu. nanti dibalikkan de bilang gitu”kata Mama
“Emank barang. Pinjem-balik” aku tertawa.
“Ya udah gih sana, keburu nanti dianya ada janji”
Dengan malas-malasan aku bangkit dari tempat tidurku.
09:45. jam itu terpampang jelas didinding kamarku. Aku mengayuh sepadaku dengan santai sambil menikmati udara pagi. Beberapa tetenggaku sibuk membawa anjing mereka berkeliling, ada yang menyuci mobilnya. Dan macam deh aktivitas yang dilakukan di weekend itu. Setibanya dirumah Karine, aku langsung mengetuk pintu rumah itu dengan pelan. Bi Minah menyambutku “Bi…Karinenya ada??”tanyaku
“Waduh…non Karine baru aja pergi bersama…”putus Bi Minah karena dari belakang Orlando datang. Kaos putih yang ketat itu ditambah celana jeans itu membuat Orlando pagi itu tambah keren.
“Viona. Kok pagi-pagi udah kesini?”
“Ga…aku mau minta bantuan kau” Orlando mengerutkan dahinya menatapku “Tapi sepertinya kamu mau pergi yah…”
Sekilas wajah Orlando berubah…”Ah…ga kok. Hari ini gua ga kemana-mana”
“Oo…”
“Emanknya lo mau minta bantuan apa??”
“Gini nanti sore teman Mamaku dari Padang datang”
“Terus??”
“Ng…mau ga kamu mengajari Mamaku buat brownies??”tanyaku. Orlando diam sejenak, sepertinya dia mencoba berpikir “Tapi…kalo ga bisa juga ga papa. Makasih ya”Sambungku dan langsung membalikkan badanku.
“Ok…aku mau kok.” Aku terpelongo mendengar itu dan ketika itu juga aku membalikkan badan dan langsung memberikan senyuman yang paling manis meskipun pesawat gigiku membuatnya jadi asam dan pasti kelihatan aneh. Huh...
Sesampainya kami dirumah, Mamaku langsung menyambut Orlando dengan ramah. Mama pun langsung mengajak Orlando ke dapur. Dari belakang aku mengikuti mereka. Mama dan Orlando langsung cepat banget akrabnya. Orlando lansung mengajari Mama cara buat brownies. Kedua mataku serasa enggan untuk aku alihkan. Sosoknya yang beda itu membuatku ingin betah berlama-lama menatapnya. Padahal selama ini aku ga pernah mau memperhatikan Mamaku kalo lagi sibuk didapur. Tapi kali ini beda. Aku mencoba memfokuskan mataku pada laptopku, tapi aku betul-betul terpana asmara oleh Orlando.
Kenapa dengan aku.??? Kenapa aku begitu senang melihat Orlando?! Apa aku udah jatuh cinta padanya??? Sejak kapan???Kenapa Orlando??? Tapi…
Viona diam sejenak tiba-tiba perasaannya gelisah, hatinya pun ga nyaman banget. Jantungnya berdegup kencang terus menuntunnya dalam mengatur nafasnya.
Yah…aku udah jatuh cinta padanya. Dan rasanya benar-benar nyesak banget. Dan aku susah untuk menetralkannya kembali. Tapi…aku sadar akan diriku. Aku kebalikkan dari cerita dongeng yang diceritanya The beauty and the beast, yang dimana pengerannya yang kena kutukan, hingga akhirnya berubah menjadi beast. Dan kutukan itu akan sirna apabila ada seorang putri yang mencintainya dengan setulus hati.
Aku mencoba memposisikan diriku di dalam cerita. Akulah beast itu. pertanyaannya sekarang apa aku kena kutuk??? Siapa yang mau ngutuk aku?? Apakah aku akan berubah menjadi gadis yang cantik dan mendapatkan cinta yang tulus??! Dari pengeran yang mencintaiku…??! Tapi siapa pengerannya??
Orlando…kau membuat diriku betul-betul jatuh cinta padamu. Dan aku ga tau lagi musti nge-gimanakan hati…perasaanku ini. Aku memandangin laptopku, dan saat itu juga Orlando memperhatikan aku. Yah…walau hanya sekilas.
Balasan yang bagaimana yang aku harapkan darinya, kalo seandainya dia tau perasaanku ini. Aku betul-betul bingung. Semakin aku menelusuri hatiku yang udah diisi oleh namanya akupun semakin terlalu banyak berharap. Berharap yang nantinya akan membuat aku kecewa. Sungguh aku tak mengerti dengan ini semua. Cinta yang selama ini aku cari-cari…aku harapkan…ternyata aku salah alamat udah mengirimkan isi sinyalku pada orang yang sama sekali ga mungkin nge-reply perasaanku ini. Aku bagaikan seorang gadis yang betul-betul malang.
Aku membaca kembali ‘kiat cinta’
Kepastian yang ditunggu
Haruskah aku menunggu
Menunggu orang yang menyayangiku
Untuk mengatakan semuanya
Mengatakan bahwa ia menyayangi dan menginginkanku
Terus sampai kapan???
Waktu terus berlalu
Mengiringi langkah-langkah penantianku
Aku tak sanggup untuk menunggu
Semua penantian ini
Aku ingin kepastian yang dapat menenangkan hati dan pikiranku
(by:lovers_jomblo)
Aku terpelongo begitu selesai membaca puisi ini… Aku betul-betul ga menyangka ternyata bukan aku saja yang terlalu lama menunggu seseorang yang dapat membuat hatiku ini dipenuhi cinta.
Jikalau kamu benci padaku…tataplah aku
Jikalau kamu ingin maki aku…makilah dengan kata-kata puisimu
Jikalau kamu ingin tampar aku…tamparlah aku dengan cintamu
Jikalau kamu ketakutan padaku…berilah aku satu ciuman
Aku tertawa geli saat membaca kembali kata-kata aneh yang udah aku ketik dalam laptopku itu.
“Wah…lagi sibuk nih kayaknya” kata Orlando mengagetkanku dan duduk tepat dihadapanku “Nih”sodornya kue brownies
“Hmmm…kerjanya memang begitu nak Lando”timpal Mama “Kerjanya hanya depan laptop aja, ntah apa yang diketiknya dalam laptonya itu”
Orlando hanya tersenyum saja mendengar celotehan Mama. Sepertinya dia udah biasa mendengar celotehan Mama yang kadang menurutku ga begitu penting. Aku memakan kue brownies itu dengan lahap
“Viona, kamu tuh harus banyak belajar dari Orlando. Mama takut nantinya kamu akan dipulangkan suamimu kalo kamu ga bisa masak”
“Mama…” rengekku. Aku menunduk malu. Idih mama ini, kalo nyerocos ga lihat sikon banget sih, gumanku dalam hati
“Lho…memang benarkan… mana ada suami yang mau terus-terusan makan direstaurant”timpal Mama lagi
Ukh…Mama, dasar ga tau banget sikonnya kalo udah bawelnya keluar. Mana sekarang Orlando jadi tau semuanya. Terus tadi Mama cerita apa lagi ma Orlando. Jangan-jangan Mama cerita lagi, kalo beberapa bulan lalu aku pernah masa ikan dan semuannya gosong, sampe-sampe kucing tetangga sebelah pun ga mau makan. Oh…My God. Jangan sampai itu terjadi. Bisa-bisa tamat sudah riwayatku untuk dapat cowok. Semuanya betul-betul buruk!!!
Sorenya Orlando baru pulang. Sebelum teman Mama datang. Mama dan Orlando betul-betul jadi akrab banget. Masa aku kalah dengan Mama sih pikirku.
“Tante aku pulang dulu ya”pamit Orlando
Aku mengantar Orlando sampai kedepan “Gue pulang yah…Kalo besok-besok minta bantuin masak kue lagi gue siap kok”katanya sambil memamerkan senyum tulus.
“Ah…iya. Maaf udah buat kamu repot. Pasti kamu ga tahankan dengar bawelan Mamaku??. Aku harap kamu maklumin, soalnya Mamaku bawaannya emank gitu”jelasku. Duh ga penting amat sih. Basa-basi apaan tuh.
“Ga kok, nyokap lo baik lagi…gue senang banget bisa akrab ama nyokap lo. Yaudalah, gue pulang ya” aku mengangguk mantap dan Orlando pun memacu mobilnya dengan santai.
Orlando!!!kau udah memanah tepat dihatiku, gumanku sambil memegang dadaku dan senyum-senyum masuk dalam rumah.
♥♥♥
1 jam kemudian teman Mama dari Padang pun datang. Dia datang bersama anak gadisnya. Cewek itu begitu cantik dengan pakaian kemeja yang tak belengan dan celana jeans yang kuncup. Body langsingnya terpancar jelas. Wajah indonya samar-samar terpancar. Saat melewatiku dia tersenyum ramah.
“Retno”panggil Mama dengan girang “Ini..anak kamu itu??”
Tante yang namanya Retno pun tersenyum sambil mengangguk pelan
“Wah…cantik banget..”puji Mama
Iya… cantik banget, beda sekali dengan anaknya yang jelek ini, sambungku dalam hati.
“Vie, sini donk. Kenalkan ini tante Retno.” Aku pun dengan sopan menyalamin “Ini anaknya “ timpal Mama, dan bergantian aku langsung salaman dengannya.
“Nadine”
“Viona”
Nadine begitu tampak cantik. Bagai model, tampangnya seperti Nia Ramadhani, bodynya juga mirip banget. Aku yakin de pacarnya pasti udah segudang.
“Aduh…kita dah lama banget yah ga ketemu. Udah 10 atau 12 tahun gitu ya”kata Tante Retno
Mama hanya mengangguk dan tersenyum “Ma aku kekamar yah…” aku langsung bergegas kekamar sambil membawa laptopku.
“Aduh…maaf yah, Viona itu anaknya emank gitu. Susah untuk bergaul”
“Ga papa kok Tan”kata Nadine
Nadine betul-betul cantik 1/3 dari dia pun aku ga ada. Aku betul-betul makin sadar tentang diriku. Aku ga mungkin bisa seperti kaya Nadine. Yang cantik, anggun, dan manis. Aku duduk di meja belajarku sembari membuka laptopku.
Hari ini aku baru menyadari kenapa para cowok begitu memuja para cewek yang cantik. Kecantikan adalah modal utama dari segalanya. Inner beauty itu ga penting asal kecatikan itu bisa sempurna. Makanya dizaman sekarang ini banyak orang berbondong-bondong kesalon kecantikan untuk mengubah dirinya agar tampak lebih cantik. Mengubah apa yang udah diberikan Tuhan, dan kurang puasnya pada dirinya sendiri. Yah…seperti aku yang selalu ga puas pada diriku. Lagian apa yang bisa buat aku puas. Aku…sendiri aja bingung kalo orang-orang Tanya itu. Bakatku??? Oh…yang bener aja, bakat menulis fiksi gitu aja banyak kok yang bisa, itu hanya keberuntungan semata aja, kalo kamu bisa diterima banyak orang.
Aku mendongak keatas memandangi langit kamarku yang putih polos. Tiba-tiba aja wajah Orlando tergambar jelas. Aku mengucek-ucek mataku lalu menatapnya kembali, dan bayangan itupun hilang. Duh…kayanya gue mulai gila nih. Sejak datangnya Orlando, semuanya berubah. Cara pandangku pun mulai berubah. Yang mana??? Aku mengendurkan kepalaku, lalu melamun lagi. Bayangan-bayangan Orlando muncul lagi. Dan itu tak dapat aku hentikan. Karena semakin ku hentikan bayangan itu semakin susah untuk aku lepaskan...
♥♥♥
Aku dengan semangat 45 menyambut pagi. Matahari yang dipagi itu aja kalahnya dengan sinar-sinar semangatku. Aku duduk dikelas sambil bernyanyi kecil dan mengikuti alunan musik yang lagi aku dengar dengan headsetku. Dari muka pintu kelas, Karine juga dengan senyum sumingrahnya menghampiriku. Aku menoleh dan mendapatkan sesuatu yang ganjil.
“Viona…”panggilnya bak anak kecil
“Lo kenapa??”tanyaku yang merasa aneh dengan sikapnya. Karine pun duduk dengan manis tepat disampingku. Wajahnya saat itu merah bahagia gimana gitu. Tepatnya lebih ke mupeng gitu…hahhahaha…
“Semalam waktu aku ngedate ama Thomas, tepatnya waktu dibioskop…”putusnya sehingga aku menjadi penasaran dengan ceritanya
“Emanknya lo kenapa dengan Thomas di bioskop??”
“Aku..’di-kiss’ “bisiknya pelan banget
“What!!!”teriakku dengan spontan, sehingga teman-teman sekelas pada menoleh dan menatap aku dengan aneh
“Ssssttt…duh Vie, biasa aja donk reaksinya…”kata Karine yang udah malu banget
“Kok…perkembangannya secepat ini sih. Lo kan baru 1 minggu gitu jadian dengannya.”
“Ih…Vie kolot banget sih… maunya kapan coba???”Tanya Karine
“Yah..setidaknya udah 2 bulan kek, ato sebulanlah yang paling cepat”jelasku
“Ih…kelamaan yang ada bibirku lumutan nunggu ciuman darinya. Lo sih ga tau rasanya ciuman itu gimana. Aku aja sampe ‘ketagihan’”ungkapnya dengan sumingrah.
“Lo bener Rine, gue aja lom pernah dicium, jadi gue mana tau rasanya”ungkapku dengan pelan.
“E…ng…sorry Vie, gue ga bermaksud gitu. Gue…” Karine jadi bingung mau ngomong apa. Perasaan tak enak hinggap dihatinya.
“Ya ampun nyantai aja kali, ga usah ga enak gitu. Terus sekarang langkah selanjutnya dalam perkembangan lo dengan Thomas gimana??”
Karine mengerutkan dahinya, mencoba berpikir.”Ato…lo mau melakukan hubungan yang lebih dalam gitu misalnya. Yang ‘gitu-gitu’ de”godaku dan menekan kata ‘gitu-gitu’
“Ah…rese lo”ketusnya dan langsung senyum-senyum ga jelas.
♥♥♥
Pulang itu aku langsung pulang kerumah. Aku langsung membuka laptopku setelah mengganti seragam sekolahku dengan pakaian kaos polos dengan celana jeans ¾.
Bagaimana ini Tuhan… aku udah kepincut dengannya . Perasaan ini memang betul-betul beda dari rasa sukaku pada Alberto. Oh…mungkinkah ini namanya cinta???Cinta yang debarannya dapat membuatku nyesak banget. Virus-virus cinta ini mulai menjalar dalam diriku. Dan aku terperangkap sama itu semua. Virus cinta yang satu ini sulit bagiku untuk nge-scannya bahkan nge-updatenya. Harus kemana aku nge-scan virus cinta ini??? Ke dokter cinta??? Oh…please de, itu ga mungkin banget dan ga segampang itu kali…
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan pelan keluar dari kamar. Kakiku dengan langkah pasti menuju dapur. Terdengar dari luar suara bel, Mama beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu.
“Orlando”kata Mama kegirangan. Aku dengan cepat menutup kembali kulkas itu dan berjalan pelan keluar dari dapur. Rasa penasaranku begitu besar saat Orlando menunjukkan batang hidungnya. Orlando pun tersenyum saat melihatku.
“Hai..sapaku??” Orlando kembali tesenyum
“Gini tante, kemarin aku berpikir apa hal ini perlu buat tante”katanya sembari memberikan Mama buku resep makanan.
“Iya..iya Tante perlu sekali ini”kata Mama seraya membuka-buka resep itu dan tersenyum dengan sumingrah. Dari dapur aku membawa segelas sirup dingin, aku meletakkan tepat dihadapannya.
“Minum dulu” tuturku pelan
“Duh…nak Lando ini baik banget. Viona kamu harus cari suami seperti nak Lando ini, jangan asal pilih loh”kata Mama seenaknya.
Orlando tersenyum mendengar itu. Aku juga berharap seperti itu, tapi apa dia juga berharap seperti itu??? Rasanya itu semua ga mungkin de, gumanku dalam hati.
“Hmmm…tante mau coba buat dulu ya, kalian berdua ngobrol-ngobrol aja dulu” Mamapun berlalu dengan langkah ringannya, Orlando meneguk sirup dingin itu.
“Vie…temani gue keliling Jakarta yah”
“Ha..hah”
“Iya, habis dari kemarin ngajak Karine, ga bisa melulu. Alasannya sibuk gitu”
“Ng…”sebelum aku menjawab, bel rumahku kembali berbunyi. Aku bangkit lalu membukanya. Aku terpelongo melihat siapa sekarang yang ada didepanku. Seorang cewek cantik, manis tengah berdiri tepat dihadapanku sambil memegang kotak.
“Hai…Vie”sapanya ramah
“Nadine”kataku yang masih belum percaya
“Tante ada??”
“Ah..lagi didapur. Masuk dulu”
Nadine berjalan masuk dengan langkah yang anggun. Tapi kakinya terhenti tepat diruang tamu. Matanya terkejut melihat seseorang yang lagi duduk disitu.
“Beiph…”katanya memastikan. Orang yang dipanggil beiph yang tak lain adalah Orlando mendongak menatap Nadine
“Na…Nadine” kata Orlando terpelongo. Dia tak percaya akan penglihatannya.
“Loh, ada Nadine toh”kata Mama yang muncul dari dapur.
Apa ini semua, pikirku. Kenapa Nadine memenggil Orlando dengan’beiph’???
“Oya..tante, tadi Mama menyuruh Nadine berikan ini, katanya ucapan terima-kasih atas jamuannya semalam” kata Nadine sopan seraya memberikan kotak besar pada mama.
“Ah…Mama kamu itu bisa aja” kata Mama seraya menerima kotak yang dibawa Nadine tadi.
“Tapi..kenapa kamu bisa disini”Tanya Nadine yang masih bingung, dia menatap Orlando lalu bergantian menatap Viona.
“Loh kamu kenal dengan nak Lando??”Tanya mama, Nadine mendekati Orlando lalu melingkarkan tangannya ketangan Orlando.
“Dia ini pacar Nadine, tante”jawab Nadine enteng.
Hah…pacar???Orlando dengan Nadine, gumanku yang belum percaya. Dadaku terasa sakit banget mendengar itu semua. Rasa-rasanya hatiku mulai menjadi gusar, dan ga tenang aja. Aku mencoba mencubit tanganku dan rasanya sakit, berarti aku ga mimpi donk. Berarti benar, Orlando dan Nadine bener-bener pacaran.
Mereka seperti cerita yang didongeng-dongeng. Pangeran yang ganteng, dan Putri yang cantik. Perfect, couple perfect.
“Ng…”
“Vie…”panggil Orlando
Aku menatap Orlando dengan tatapan yang betul-betul membuatku ga bisa mengartikan tatapan yang aku berikan pada Orlando.
“Sepertinya aku ga bisa de temani kau keliling Jakarta. Kau bisa pergi dengan Nadine”kataku dengan pelan. Aku berusaha bersikap wajar.
“…”
“Tiba-tiba aja aku baru ingat kalo ternyata aku masih banyak tugas yang belum aku selesaikan”kataku mencoba-coba mencari suatu kalimat bohong lagi.
“Oh…ya udah, kalo gitu Tante, Vie kami permisi dulu”kata Nadine dengan suara manjanya lalu menarik Orlando. Orlando pun hanya sempat memberikan senyuman kepada Mama dan ga untuk diriku. Aku melangkah dengan malas-malasan masuk dalam kamarku. Tanganku spontan meraih laptop dimejaku, lalu aku bawa ketempat tidur…
Aku… sepertinya ga perlu lagi untuk nge-scan virus cinta dalam hatiku. Karena sepertinya virus itu hilang begitu aja dalam diriku tanpa harus mengobatinya. Aku menutup mataku, kejadian tadi masih membekas dalam ingatanku. Aku betul-betul udah mati harapan??? Tamat sudah semuanya. Rasa cintaku, langsung begitu aja luntur. Cintaku padanya betul-betul berakhir. Aku ga mungkin dapat mengalahkan dia. Sainganku untuk mendapatkannya betul-betul ga punya harapan untuk menang. Aku kalah sebelum bertempur. Yah…aku tau akhirnya juga aku akan kalah. Dia begitu cantik layak seorang model yang cantik mereka begitu sempurna. Pasangan yang sempurna. SEMPURNA!!!!!!!!
♥♥♥
Viona masih aja teringat dengan kejadian yang kemaren saat Nadine berkata kalo dia berpacaran dengan Orlando. Dan bodohnya aku, aku ga bisa menghapus itu semua dari dalam memoriku. Karine menghapiriku dengan tatapan yang aneh.
“Lo kenapa??”tanyanya pelan
“Hah…gue, ga papa kok”elakku
“Oh…oya lo da ketemu ya sama pacar Orlando?”
DEG!!!
Aku mengangguk pelan tanpa menoleh sama sekali kearahnya.
“Dia cantik ya. Aku aja sampai ga percaya, sepupu gue bisa dapat cewek seperti itu.”
“…”
“Lo tau ga 2bulan lagi mereka bakalan married”
“O…”kataku pelan, aku diam sejenak lalu “Apa..married??”tanyaku spontan.
“Lo..kok kaget gitu??”tanyanya penuh curiga
“Ah..biasa aja lagi”jawabku “Manknya mereka da berapa lama pacaran??”aku mengalihkan.
“Udah…2 tahun sih. Awalnya mereka itu bisa pacaran karena perjodohan dari orang tua mereka. Lagian bulan depankan Orlando sidang, jadi begitu lulus kuliah mereka langsung married. Lagipula kehidupan kedepannya Orlando dan Nadine udah terjamin. Karena Papa Nadine menawarkan jabatan wakil direktur diperusahaannya”jelas Karine
“Yah…mereka begitu serasi”timpalku.
“Ya..”
Mereka bakalan married 2 bulan lagi. Aku betul-betul menyerah sekarang. Menyerah…harapanku hilang begitu aja, bagai diterpa badai dan hilang ga tau kemana.
“Vie…Alberto tuh”
“Ha..apa??” tanyaku ulang
“Ah…tadi Alberto lewat, lo sih melamun aja. Lo kenapa sih kok jadi sering melamun gini??”
“Ga aku baik-baik aja kok”
Baik-baik apanya, yang ada sekarang gue sakit hati. Broken heart ga jelas gini. Padahal aku dah tau bakalan berakhir seperti ini, tapi kenapa sakitnya lebih sakit dari yang aku bayangkan?? Aku rasanya mau muntah…
“Vie…lo ga papa, kok wajah lo pucat gitu. Lo sakit yah…??”Tanya Karine memastikan “Klo lo sakit biar gue antar pulang”
Kepalaku betul-betul pusing banget. Rasanya semuanya berputar
“Gue antar lo pulang yah..”
Aku mengangguk pelan. Lalu Karine menuntunku sampai kemobilnya setelah izin sama guru piket.
♥♥♥
Aku memejamkan mataku. “Maksih ya Karine”kata Mama
“Sama-sama kok tante” Karine pun segera pamit. Tubuhku betul-betul ga berdaya. Rasa pusing, mual dan sakit hatiku bercampur menjadi satu. Aku da ga sanggup lagi dengan rasa yang aku rasakan.
Karine menghentikan mobilnya tepat dirumahnya.
“Lho..Karine, kok pulang jam gini??”Tanya Orlando dan sebelahnya ada Nadine.
“O…aku tadi ngantar pulang Viona, dia lagi sakit. Tadi wajahnya pucat ga jelas gitu dikelas”jelas Karine
“APA!! Viona sakit??”Tanya Orlando memastikan. Nadine yang ada disebalanhya itu terkejut melihat reaksi Orlando yang menurutnya agak berlebihan. “Gue harus kesana”sambungnya dan udah siap-siap mau pergi.
“Lebih baik nanti sore aja, soalnya Viona tadi lagi istirahat”kata Karine, dan langkah Orlando pun terhenti
“Gue ga bisa menunggu sampai sore” Orlando pun bergegas pergi meninggalkan Karine dan Nadine yang masih belum mengerti dengan sikap Orlando yang aneh itu.
Orlando tergesa-gesa membunyikan bel rumah Viona. Terpancar jelas wajahnya yang khawatir itu.
“Orlando??”
“Siang Tante, gimana keadaan Viona sekarang??”
“Dia masih tidur. Tadi dokter udah meriksanya, katanya sih kecapean gitu. Sehingga kekurangan darah, ditambah dari kemaren ternyata Viona kurang teratur makannya”jelas Mama
“Boleh saya melihatnya”
“Oh..silahkan” mama Viona mempersilahkan Orlando masuk. Orlando yang diantar sama Mama Viona menuju kamar. Viona lagi berbaring ga berdaya gitu. Wajahya yang pucat gitu membuat dirinya betul-betul jadi aneh. Mama meninggalkan Orlando.
“Apa mungkin??”Tanya Mamanya pelan
Orlando begitu spontannya membelai rambut Viona yang panjang. Kekhawatirannya agak sedikit berkurang.
1 jam kemudian..
Viona tersadar dari bangunnya. Matanya begitu berat untuk dibuka. Masih samar-samar. Bayangan wajah Orlando pun muncul.
“Owh…kenapa wajahnya sih yang muncul”kataku pelan sambil menutup kembali mataku.
“Hei..”panggil Orlando pelan. Dengan cepat Viona membuka matanya. Matanya langsung tertancap pada Orlando yang ada dihadapannya. Viona mengerjapkan matanya tak percaya.
“Orlando”kataku ga percaya
“Gimana perasaan lo sekarang??”
“Ng…kepalaku masih pusing. Rasanya aku mau muntah” setelah aku bilang begitu tiba-tiba aja aku mengeluarkan muntahanku dan mengenai baju Orlando. Hoekz.
“Ng..maaf”kataku pelan sambil terduduk lemas.
“Ah..ya udah gak papa kok. Gue bersihin ini dulu yah” kata Orlando seraya pergi.
Kenapa Orlando bisa disini??? Duh, kenapa kau membuat diriku jadi berharap. Seolah-olah kau yang memberi peluang itu. aku jadi semakin susah untuk melepaskanmu.
Beberapa menit kemudian Orlando datang bersama Mama “Gimana keadaanmu, sayang??”
“Masih lemas Ma, tadi aja aku memuntahkan muntahanku. Dan semuanya itu kena Orlando”kataku. Aku kembali tidur, mataku rasanya panas.
“Hmmm…ya udah sekarang kamu makan dulu yah..”
“Ng…ga de Ma, perutku masih enegh nih”tolakku lalu membelakangi mereka.
“Tante biar aku aja yang bujuk dia”bisik Orlando
“Tapi…” Orlando langsung mengambil piring itu dari tangan Mama Viona. Mama Viona pun keluar.
“Vi, makan dulu yuk”bujuk Orlando lembut.
“Ga de, lebih baik kau taruh saja makannya disitu. Terus kau pulang, aku takut nanti kalo Nadine mencari-carimu”kataku pelan dengan posisi masih membelakangi Orlando.
“Gue ga akan pulang, sebelum lo makan dulu. Setidaknya satu atau dua suap aja”pintanya lagi
Viona bangkit lalu menatap tajam Orlando “Aku bilang kau pulang aja. Nagapain sih kau sibuk dan repot-repot ngurusin aku”teriakku
Orlando menatapku dengan pandangan aneh dan kaget tak percaya. Piring itu pun diletakkannya diaras meja, tepat disamping tempat tidurku.
“Kalo kamu mau, kamu makan yah. Aku hanya ga ingin lo jadi lebih parah” katanya dan pergi keluar dari kamar Viona. Air mata Viona lansung mengalir begitu aja. Ga bisa lagi dibendungnya “Maafin aku”kataku pelan
♥♥♥
Sudah beberapa hari sejak itu, Viona pun ga pernah lagi ketemu dengan Orlando.
“Vie, nanti siang lo ikut kebandara??”Tanya Karine disela-sela pelajaran
“Manknya siapa yang mau lo jemput?”tanyaku agak cuek
“Orlando..dia mau balik ke Bandung hari ini. Katanya mau mempersiapkaan sidangnya yang tinggal beberapa minggu lagi” jelas Karine
“O…aku ga bisa. Maaf yah, aku titip salam aja” kataku pelan.
“Lo kenapa jadi aneh gini sih Vie??”Tanya Karine bingung “Semenjak lo sakit, lo seperti cuek gitu, seperti biasanya lagi”
“…”
Viona yang mendengar itu hanya diam seribu bahasa. Sepertinya ada rasa yang hilang dari dalam dirinya. Viona bingung dengan dirinya, sejak pengusiran Orlando sewaktu dia sakit. Viona merasa ada yang ga beres dalam dirinya. Ada satu rasa yang udah mati. Rasa yang membuat Viona berubah menjadi lebih cuek dan pendiam. Seperti Viona yang dulu, yang hari-harinya tak dipenuhi rasa cinta lagi. Semunya sirna begitu aja. Mungkin itu lebih baik, dibandingkan nantinya sakit karena terlalu banyak berharap akan suatu yang tak mungkin lagi.
Pulangnya, Karine langsung melajukan mobilnya kebandara.
Bandara Soekarno.
Karine masuk kedalam, dan dengan mudah menemukan sosok Orlando.
“Sorry telat, habis macet”kata Karine. Tapi kata-kata Karine tak dihiraukan. Orlando sibuk mencari-cari seseorang.
“Hello lo lagi nyari siapa??”
“Ng…”sebelum dijawab, dari belakang muncul Nadine dengan kopernya yang ditariknya.
“Sorry telat ya, beiph”
Oh…nyari dia toh, pikir Karine
“Oya…Viona ga ikut, tapi dia titip salam pada kalian berdua”
“Makasih. Ng..Rine, waktu married gue, lo jangan lupa ajak Viona ya”kata Nadine dengan nada manjanya sambil merangkul tangan Orlando yang tampak begitu agak sedih.
“Pasti”
“YUkk…masuk, sepertinya kita udah dipanggil”kata Orlando
“Kami berangkat yah…”kata Nadine, sambil menggandeng Orlando.
Karine pun langsung pulang. Diwaktu yang sama, Viona terdiam terpolongo bak orang bego sambil menatap laptopnya. Kali ini jemari-jemarinya enggan ntuk menyentuh keyboard pada laptopnya itu. Ide-idenya pun hilang begitu aja. Rasanya sulit bagi dia untuk merangkai kata-kata. Perasaan dan pikirannya kacau banget. Susah baginya untuk bersikap biasa aja.
Dan didalam pesawat, Orlando melamun terus. Nadine yang bercerita tak lagi digubrisnya. Setiap pertanyaan keluar dari mulut Nandine hanya dijawab dengan , oh, ntahlah, ya”
“Beiph lo kenapa sih??”Tanya Nadine
Kali ini Orlando hanya menggelengkan kepalanya. Nadine begitu kesal melihat sikap cowok yang ada didepannya itu. Orlando kembali diam sambil menatap keluar dari jendela. Pandangannya menerawang entah kemana. Tiba-tiba muncul dalam benaknya sosok Viona yang lagi senyum sambil menunjukkan pesawat giginya. Sekilas Orlando tersenyum mengingat itu semua. Lalu ditepiskannya lagi semua itu, Orlando pun kembali termunung lagi.
Sorenya Orlando dan Nadine tiba di Bandung. Mamanya Orlando menyambut mereka dengan senang. Orlando langsung masuk kamarnya meninggalkan Mamanya dan Nadine
“Kenapa Orlando?? Apa liburannya diJakarta tidak menyenangkan??”
“Menyenangkan sih Tante, Nadine juga bingung dengan sikap Orlando yang begitu.”
BRUKK
Orlando menjatuhkan badannya dengan santai ketempat tidurnya.
‘Aku bilang kau pulang aja. Ngapain sih kamu sibuk dan repot-repot mengurusiku’
Orlando bangkit. Lalu duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Cukup lama Orlando berdiam diri gitu, hingga Nadine membuyarkan lamunannya.
“Beiph…yok makan, Tante udah tunggu di bawah tuh”
“Gue ga lapar”katanya lumayan ketus
“Kamu kenapa sih, kenapa lo jadi sikap aneh gini. Jangan bilang kalo kamu udah jatuh cinta padanya”
Orlando langsung menatap Nadine dengan tatapan yang jutek “Apa maksud lo?”
“Kamu dah jatuh cinta pada Vionakan???”
Orlando terdiam “Kenapa diam?? Benerkan kalo lo udah jatuh cinta padanya”
“Jangan ngaco de”
“Ngaco kamu bilang. Kita udah pacaran selam 2 tahun, tapi kamu sama sekali ga pernah panggil aku ‘beiph’. Lalu saat aku sakit diare, kamu sama sekali ga ada sedikit pun memperhatikan aku. Tapi ketika ‘dia’ sakit, lo panic dan langsung kerumahnya. Apa itu namanya kau udah jatuh cinta padanya” jelas Nadine dan saat itu juga airmatanya mengalir. Orlando terdiam, lalu tangannya menarik badan Nadine. Nadine menangis begitu aja didada Orlando. Orlando memeluk tubuh Nadine yang ramping itu
“Aku takut kehilangan kamu, Orlando. Aku cinta padamu”tutur Nadine yang masih terisak-isak. Orlando hanya diam mendengar itu semua. Ga ada yang bisa dia ubah. Perasaannya dan hatinya. Kini hatinya penuh dengan dilema. Dan itu membuatnya sedih dan bingung.
♥♥♥
Udah hampir sebulan lebih semenjak kepergian Orlando. Viona kini udah bisa manage dirinya. Meskipun sisa-sisa broken heartnya masih ada. Tapi sepertinya itu semua bisa dihandle olehnya.
Sikapnya pada Karine mulai kembali seperti biasa. Viona menutup laptopnya lalu bergegas pergi keluar. Dikeluarkannya sepedanya dari bagasi. Viona mengayuh sepeda itu hingga sampailah dia dirumah Karine. Karine membuka pintu dan mempersilahkan Viona masuk.
“Vie, minggu depan lo ikut ga ke Bandung??”Tanya Karine
“Ngapain?”tanyaku yang sok ga ngerti
“Yah..marriednya Orlando. Bukannya lo juga diundang?”
“Yah..kemaren Mama juga bilang gitu. Tapi sepertinya aku ga bisa de, soalnya aku mau kerumah nenek yang ada dibekasi” kataku pelan
“Lo..kenapa ngehindar dari Orlando sih Vie??”
“Loh…siapa yang neghindar dia, aku hanya malas aja ngehadiri pesta perkawinan. Membuat hatiku miris aja”candaku dan disusul dengan tawaku yang garing. Dan itu semua ga dinikmati sama Karine. Aku kembali diam merenungi beberapa kejadian yang terjadi balakangan ini. Semuanya bagai mimpi yang berwujud nyata.
Kenapa aku ga bisa sampai sekarang terima akan ini semua. Bentar lagi Orlando dan Nadine akan married. Dan ga mungkin aku tersenyum lebar melihat orang yang aku cintai menikah didepanku. Aku ga sanggup, rasa-rasanya dadaku ini sakit.
“Besok temani gue nyari kado yuk, buat Orlando dan Nadine.”kata Karine sambil mengotak-atik handphonenya. Aku mengangguk dengan pelan.
“Gimana hubungan kau dengan Thomas?”tanyaku pelan sambil melirik kearah Karine
“Hmmm…gue ga nyangka bisa jadian sama cowok seperti Thomas. Dia baik, care, dan pemikirannya itu dewasa banget, itu yang aku suka. Terus…kalo aku ngambek dia pasti ngebujuk aku. Wah…so sweet de pokoknya”jelas Karine sambil senyum-senyum.
“Terus…apa…kau dah ‘gitu-gitu sama Thomas? Yah…secarakan umurnya beda 2 tahun dengan kita. Pemikiran anak kuliah itu serius, ga kaya kita. Contohnya Orlando dan Nadine”
“Kemarin…gue hampir…”
“Hah…serius lo???”tanyaku antusias
“Iya..udah sampe ngeraba gitu, Cuma aku langsung ketakutan. Jadinya Thomas hanya mencium aku aja”jelas Karine pelan “Tapi begitu aku siap, aku akan melakukannya”katanya dengan nada malu-malu
“Huh…sok malu-malu. Padahal malu-malu tapi mau”ledekku
Karine melemparkan bantalnya tepat diwajahku, hingga kacamata tebalku hampir jatuh. Kami tertawa terbahak-bahak. Yah…Karine betul-betul beruntung, bisa mendapatkan orang yang dia sukai. Thomas dan Karine…
♥♥♥
2 minggu sebelum hari pernikahan Orlando dan Nadine. Para keluarga masing-masing tampak begitu sibuk. Bedahalnya dengan kedua mempelai yang lagi menyiapkan hatinya dihari pernikahan.
Nadine dengan langkah ringan menghampiri Orlando yang lagi asyik dengan laptonya. Tampak sekali-kali tersirat senyuman diwajahnya.
“Beiph…”panggil Nadine manja “lagi apa sih??”
Orlando tampak gugup kedatangan Nadine. Tangannya yang lagi memegang mouse itu langsung ng-close sesuatu. Wajahnya pun langsung tenang.
“Ga..gue lagi iseng cari-cari beasiswa nih diluar negeri”kata Orlando sambil tersenyum tipis.
Nadine langsung diam. Mimik wajahnya pun berubah menjadi aneh.
“Tapi..itu ga akan terjadi kok. Karena gue kan bentar lagi jadi suami lo. Lagian bokap lo udah memberi gue satu kesempatan untuk menjabat di kantor menjadi wakil direktur”jelas Orlando mantap tanpa ada keraguan sedikitkpun diwajahnya yang ganteng itu. Nadine hanya bisa tersenyum, karena hatinya betul-betul lagi kacau dan galau ga menentu memikirkan banyak hal.
Di Jakarta…
Aku bertopang dagu menatap Mamaku yang lagi super sibuk prepare. Beberapa baju dikeluar-masuk dari koper. Mama gitu kalo udah mau pergian, apalagi kali ini agak lama. Mama itu hebring banget, maklum kayaknya sih mau honey moon yang keberapa gitu. Aku tertawa geli membayangkan itu.
Mama menoleh kearahku lalu menatapku dengan pandangan yang aneh.
“Bener nih ga mau ikut ke Bandung??”Tanya Mama memastikan untuk kesekian kalinya.
Aku menggelengkan kepalaku dengan mantap.
“Ntar nyesel lho, bukannya kamu ingin lihat kebun stroberi…Lagian pemandangan Bandungkan sejuk dan indah”kata Mama dengan lagak promosi banget
“Ih…Mama, sekali ga ya tetap ga”kataku agak kesal. Mama mendengus kesal mendengar itu semua. Aku tau Mama hanya ga ingin aku ditinggal sendirian, apalagi kali ini perginya cukup lama. Aku keluar dari kamar Mama, dan langsung berjalan kekamarku
“Huh…dasar Mama”rutukku kesal
Aku berdri berkacak pinggan tepat didepan cermin. Wajahku terpantul jelas. Aku menatap wajahku dan langsung menghela nafas.”Jelek”jutekku pada bayanganku sendiri.
“Kalo jelek ya tetap jelek. Gue berubah jadi cantik kalo operasi plastic. Cih…ga banget. Ga ngehargai apa yang diberikan Tuhan aja. Memang aku ga puas pada apa yang ada dalam diriku. Tapi belakangan ini aku cukup bisa sadar diri. Mank selama ini aku selalu sadar diri, tapi ntah kenapa kali ini aku begitu puas dengan diriku”
Aku mengangguk pelan lalu tersenyum lebar sehingga pesawat gigiku terlihat jelas.
Aku terduduk dipinggir tempat tidurku. Aku melipatkan kedua kakiku lalu bertopang dagu. Detik-detik menjelang pernikahan Orlando dan Nadine sebentar lagi. Mungkin ga ya disaat umurku seperti Orlando dan Nadine, 24-25 tahun gitu aku bisa menikah.
Menikah dengan orang yang aku cintai, dan dia pun mencintaiku. Pokoknya didasari oleh cinta. Tapi siapapun laki-laki itu aku harap dialah yang selama ini aku cari. Sosok yang terbaik buatku, yah…walaupun aku sekalipun belum pernah merasakan yang terburuk dulu. Aku meghela nafas lalu menguap besar sekali.
“Apa sih yang aku pikirkan??? Aku masih SMA lagi, masa da mikir menikah segala”rutukku pelan dan langsung senyum-senyum bak orang gila.
♥♥♥
Hari itu aku mengantar Mama, Papa dan Karine ke bandara.
“Nanti, Mama akan telepon begitu nyampe. Kamu jangan telat makan, jangan makan yang instant lho. Kamukan punya penyakit maag”ingatkan Mama dengan nada protectivenya.
“Mama…itu dah Mama bilang lho selama sepanjang jalan. Masa diingatkan lagi. Viona juga ingat kok” komentar Pap Viona
“Tau nih Mama”timpal Viona.
“Yah..Mama kan khawatir aja. Soalnya baru kali ini kita meninggalkannya. Mana lagi 1 minggu lebih lho”
“Iya..Viona ingat kok semuanya”
Aku melirik kearah Karine yang lagi duduk sendirian sambil memegang Hp-nya.
“Nih..” aku memberikan sekotak kado pada Karine “Berikan pada Nadine dan Orlando ya. Sampekan juga maafku karena ga bisa hadir”sambungku sambil tersnyum kepaksa banget. Karine menerima kado itu lalu menatapku dengan tatapan tajam nan menusuk.”Apa kamu benar-benar sakit, saat melihat orang yang kamu cintai menikah dengan orang lain?”Tanya Karine tiba-tiba
“Ng…maksud kau apa??”tanyaku pelan sambil menatap Karine
“Gue kira kita ini sahabat, tapi semuanya hanya kamuflase. Selama kita bersahabat lo jarang sekali terbuka tentang pribadi lo. Sampe-sampe lo suka sama Orlando pun aku yang harus cari sendiri kebenarannya”kata Karine dengan nada lumayan ketus.”Lo sukakan sama Orlando??”tanyanya memastikan
Aku menundukkan kepalaku, mataku kali ini susah untuk membalas tatapan Karine “Toh, semuanya berakhir bahagiakan??”kataku pelan “Suka atau tidaknya aku sama Orlando, itu ga’kan pernah merobah semuanya. Aku sadar akan diriku siapa jika dibandingkan Nadine. Aku ga seperti Nadine yang cantik dan super perfect. Kalau pun aku menyukainya, balasan seperti apa yang aku harapkan?? Aku ga ada hak untuk itu semua, karena jelas-jelas yang ada dihatinya Cuma Nadine” jelasku dengan pelan namun tegas. Aku betul-betul sadar dengan apa yang aku katakan. Karine hanya diam sambil kembali menatap Viona yang berusaha tegar. Karine bangga padanya. Dan akan selalu begitu. Meskipun orang memandangnya sebelah mata, tapi Viona selalu berusaha kuat. Meskipun Karine tau, kalo jauh dilubuk hatinya dia itu rapuh. Dia juga manusia, yang kadang rasa berusahanya kadang bisa hancur gitu aja. Tapi selama berteman dengan Viona, Karine ga pernah melihat sedikit pun raut kerapuhan. Karine jadi semakin iri, dia selalu bertanya-tanya kepada siapa dia selalu cerita isi hatinya kala dia membutuhkan seseorang. Viona bukanlah tipe yang dengan gampang membuka dirinya. Dia juga bukan orang yang selalu memaksa agar orang mau menceritakan curahan hatinya. Dia selalu aja siap menunggu, dan kadang memberi solusi kalo-kalo Karine udah curhat padanya.
“Maafin aku. Aku ga bermaksud untuk menyembunyikan semuanya ini. Rasanya aku ga pantas untuk menaruh harapan cinta pada sepupumu yang udah mau menikah. Aku ga mau sakit hati. Lagian soal pribadi, aku ga da yang musti kukatakan. Karena semuanya lo lihatkan secara langsung tentang diriku”
“…”
Perhatian kepada para penumpang dengan pesawat B405 jurusan Bandung, harap segera masuk.
“Tuh udh dipanggil”kataku lalu bangkit. Mama memelukku dengan erat sedangkan Papa hanya mengecup keningku
“Jangan lupa berikan kepada mereka”teriakku saat mereka bertiga melangkah masuk. Aku berjalan keluar, lalu aku menaiki salah satu taksi yang berjejer didepan bandara. Taksi itu berjalan, dan berhenti didepan rumahku.
“Makasi Pa”kataku seraya memberi uang kepada supir taksi itu.
Mungkin sekarang Nadine menjadi pengantin yang bahagia, karena bisa mendapat calon suami seperti Orlando. Terus apa orang akan beruntung mendapat pendaping hidup seperti aku???Aku memang payah!!!rutukku kesal
♥♥♥
DI BANDUNG
“Besok lo dah married”kata Karine pada Orlando, dan Orlando hanya tersenyum tipis menanggapi perkataan Karine.”Apa Lo bahagia???”Tanya Karine sambil menatap lekat Orlando. Orlando mengerutkan dahinya
“Maksud lo??”
“Hmm…lo tau apa maksud gue”
Orlando dan Karine tengah berbicara di balkon rumah Orlando. Nadine dengan langkah ringan berjalan menuju kamar Orlando. Tapi langkahnya terhenti saat melihat Karine dan Orlando lagi bicara di balkon. Nadine ingin nyamperin, tapi diurungkan niatnya itu karena Karine tiba- tiba bertanya “Lo tau kan kenapa gue Tanya gitu?”
“Aku gak tau”jawab Orlando pelan namun ketus
“Apa lo cinta ama Nadine??”
“Cinta itu bisa tumbuh dengan seiringnya waktu”jelas Orlando. Nadine yang mendengar itu menelaah maksud perkataan Orlando barusan.
“Seperti lo dengan Viona??” Nadine terdiam mendengar itu semua.
“Loh kenapa larinya ke Viona sih??”rutuk Orlando kesal
Karine diam, lalu menatap sepupunya itu.
“Oya, gue lum cerita ya. Udah seminggu ini Viona lagi didekatin cowok. Namanya Rama, dia itu murid terpintar disekolahku. Mereka akrab semenjak mereka ketemu ditoko buku. Bahkan mereka sering jalan berdua”jelas Karine
“Apa!!!Viona??? Terus udah sampe mana hubungan mereka??? Apa mereka udah jadian??”Tanya Orlando antusias.
“Kok lo penasaran gitu sih sama cerita cinta Viona”
Orlando langsung memalingkan wajahnya, menyembunyikan raut wajahnya yang terkejut.
“Lo suka sama Viona, ya??”tebak Karine.
“Gue…gue…”
“Bilang iya aja susah banget”
“…”
Nadine pun segera pergi dari tempat itu. raut wajahnya seakan-akan sedang memikirkan sesuatu
“Sejak Kapan???”Tanya Karine
Orlando mengankat kedua bahunya “Ntahlah. Aku sendiri gat au sejak kapan. Tapi yang pasti kalo gue dekat dia, rasanya didadaku ini ada kenyaman. Dan gue bisa ngobrol apa aja sama dia.
“Tapi semua itu udah terlambat kusadari. Besok gue married, dan Nadine yang akan menjadi pendamping hidupku kelak”sambungnya.
♥♥♥
Tibalah hari pernikahan Orlando dan Nadine.
Pagi itu tepat hari Rabu, gereja yang menjadi saksi bisu ikrar suci telah mulai di datangi para undangan. Kebanyakan adalah rekan kerja, teman Nadine dan Orlando serta keluarga dari 2 pihak pengantin. Mereka semua ingin menjadi saksi bisu oleh 2 orang yang saling mencintai dipersatukan dalam sebuah pernikahan. Karine dan kedua orang tua Viona dapat duduk paling depan. Tepatnya dua dari depan. Orlando berdiri didepan altar, dengan jas hitamnya. Dia menunggu kedatangan calon istrinya. Orlando tampak gagah dan keren dengan jas hitam yang melekat pada tubuhnya yang atletis itu. Dari muka pintu, Nadine datang didampingi Papanya melangkah mantap sampai kedepan altar. Orlando menyambut Nadine dengan mengulurkan tangannya, lalu mereka pun berlutut didepan Pastur. Pastur pun mulai berkata “Baiklah pada hari ini kita semua yang ada disini akan menjadi saksi dimana mereka berdua akan dipersatukan oleh sebuah pernikahan yang suci”
“Orlando Stevanus, apakah kamu bersedia nenemani Nadine Morinata yang akan menjadi istri kamu dalam suka, sedih, senang maupun duka??”
Orlando diam sejenak “Iya saya bersedia”jawabnya kemudian dengan tegas.
“Nadine Morinata, apakah kamu bersedia nenemani Orlando Stevanus yang akan menjadi suami kamu dalam suka, sedih, senang maupun duka??”
“Tidak Pastur”kata Nadine dengan tegas.
Orlando terkejut mendengar itu lalu menatap Nadine dengan penuh tanda Tanya
“Apa maksudmu??”bisik Orlando. Bukan Orlando aja yang terkejut, para undangan yang hadir pun mulai berbisik-bisik.
“Kenapa kamu menjawab tidak?”Tanya Pastur yang juga bingung. Belum pernah dalam hidup Pastur, mempersatukan orang dengan ikatan cinta, namun ditengah-tengah malah pengantinnya berkata ‘tidak’. Pastur geleng-geleng kepala.
“Bukankah suatu pernikahan itu akan terasa bahagia, jika 2 orang yang saling mencintai disatukan dalam ikatan pernikahan yang suci ini?” Tanya Nadine pelan
Pastur pun mengangguk pelan
“Apakah saya akan bahagia, bila dalam pernikahan yang saya jalani ini hanya ada satu cinta, bukan dua cinta yang menjadi cinta satu yang utuh. Saya mencintai calon suamiku ini, tapi dihatinya tak ada cinta untuk saya”
Kata-kata itu membuat Orlando terdiam. Para undangan pun terkesikma mendengar apa yang barusan dilontarkarkan calon mempelai. Tapi semuanya hening. Diam membisu, mereka lebih baik mendengarkan apa yang selanjutnya akan dikatakan calon mempelai wanita itu.
“Saya rasa pernikahan ini dihentikan saja” kata Nadine seraya berdiri dan berlari keluar dari gereja, meninggalkan Orlando dan para undangan. Karine terpelongo, dan kemudian mengejar Nadine keluar.
“Kamu mau kemana??”Tanya Mama Viona pada Karine yang bergerak ikutan keluar.
“Sebentar yah Tan”
Karine pun bergegas pergi. Sedangkan Orlando masih diam. Karine mengejar Nadine keluar gereja. Dia mengedarkan pandangannya menatap sekelilingnya. Lalu matanya tertuju pada satu sosok yang lagi duduk tak jauh darinya. Pelan-pelan Karine melangkah mendekati Nadine.
“Hhh…gue ga nyangka lo bakalan nglepasin orang yang kamu cintai dihari yang sangat lo nantikan ini”kata Karine pelan.
“Lo kira gue bahagia dengan apa yang udah gue lakuin ini. Sebenarnya gue ga mau melepaskan Orlando. Tapi gue sadar kalo didalam hatinya udah diisi oleh orang lain. Dan gue kalah sama dia”ngedumel Nadine
“Viona ya. Gue sendiri aja masih belum bisa mengerti kenapa sobatku yang bisa mendapatkan cinta dari sepupuku. Tapi…itulah cinta, dia datang tanpa kita sadari. Dia menghampiri hati yang kita ga duga. Dia menciptakan suatu perasaan yang terkadang sulit untuk kita lepasin”
“Yah…love is blind. Tapi gue sadar, kalo gue nikah ma Orlando, gue yakin dihatinya ga akan pernah gue isi. Karena dia mau nikah dengan aku, itu merupakan suatu beban bagi dia.”
Dari muka pintu gereja, Mama-Papa Nadine berlari menghampiri Nadine dan langsung memeluknya
“Maafin Nadine Ma”katanya pelan
“Ga sayang, Mama yang terlalu memaksakan ini semua. Mama sebenernya tau akan persaan Orlando terhadapmu. Mama juga ga mau kalo anak Mama punya suami yang mau menikah dan hidupnya selalu terbebani”
“Makasih Ma”
“Rine, lo nanti berikan amplop ini sama Orlando ya. Gue udah ngelepasin dia”
Karine tersenyum sambil menerima amplop cokelat itu dan segera pergi dari situ.
♥♥♥
Malamnya itu juga…
Karine masuk kedalam kamar Orlando sambil membawa amplop coklat.
“Nih”kata Karine seraya memberikan amplop itu kepada Orlando.
“Apa ini?”
Karine hanya mengangkat kedua bahunya “Mungkin surat dosa lo selama pacaran sama Nadine”jawab asal Karine. Orlando pun cepat-cepat membuka amplop itu, begitu dikeluarkannya kertas dari dalam amplop itu, tersirat kerterkejutan di wajah Orlando
“Lo…Lo dapat ini dari siapa??”
“Dari…Nandine” kata Karine bingung
Orlando pun segera bergegas pergi menuju rumah Nadine
Keluarga Ankara Morinata.
Orlando menkan bel, lalu dibukakan oleh salah satu pembantu.
“Nadine ada?”Tanya Orlando gusar
“Ng…non Nadine baru aja take off”kata pembantu itu
“Take off???”
“Iya. Take off. Keluarga Pak Morinata berencana tinggal di Jerman.”
“Apa!!!”pekik Orlando tak percaya.
“Tapi. Non Nadine menitipkan Bibi surat. Katanya harus diberikan pada Mas Orlando kalo datang” pembantu itu memberi surak kepada Orlando.
Dear beiph
Ups sorry yah, gue ulang.
Dear Orlando.
Huh lo pasti sekarang berada dirumahku kan, dan aku sekarang ada dipesawat bersama Papa-Mamaku menuju Jerman. Pasti kedatangan kamu tuh, karena apa yang gue titipkan pada Karine. Gue berpikir, kalo gue nahan lo, lo akan bahagia. Tapi gue salah. Lo ingat ga, kalo lo pernah ingin melanjutkan kuliah. Sejak itu terlintas dalam benakku tentang keinginanmu itu. Bukankah cinta itu akan terasa bahagia, kalo orang yang kita cintai juga bahagia. Lo terima ya surat beasiswa keJepang itu. Lo tinggal mengikuti ujian bulan depan, dan aku doakan supaya berhasil. Dan aku juga udah melepaskanmu. Melepaskan beban yang selama ini lo pikul. Kejarlah cintamu, dan dapatkanlah orang yang kamu cintai itu. aku akan selalu mendukungmu. Jika suatu saat nanti kita bertemu, aku harap kamu maukan anggap aku sebagai seorang sahabat.
Orlando melipat kembali surat itu dan kemudian pergi, dan tak lupa pamitan pada pembantu itu.
“Jepang yah…”gumannya
Hari ini merupakan hari terberat buat Orlando, Nadine juga. Dipesawat Nadine hanya bisa tersenyum miris mengingat kembali kisah cintanya pada Orlando. Hatinya jadi sakit saat tau orang yang selama ini dia cintai ga pernah menyimpan cinta untuk dirinya. Semua begitu cepat sekali terjadi. Dan ga ada yang bisa menghentikan semua itu. 2 tahun dia berusaha mati-matian membuat Orlando bisa mencintainya, tapi hanya dalam 2 minggu cewek bernama Viona itu berhasil mengisi hati Orlando yang kosong. Orlando bukanlah tipe cowok yang pemilih. Nadine pernah bertanya pada orlando tipe seperti apa yang diidamkannya
“Apa ya? Yang pasti gue ga terlalu memikirkan fisik. Yang buat gue, dia bisa buat gue nyaman dekat dia. Dan juga gue bisa ngomong bebas, apa aja sama dia.”begitulah kata Orlando.
Sejak itu Nadine berusaha mati-matian, menjadi gadis yang diinginkan Orlando. Dia selalu berusaha membuat Orlando nyaman, tapi sepertinya Orlando ga pernah menyadari akan usaha Nadine.
“Yah…aku harus maju, kesempatan udah ditangan. Dan aku ga akan menyia-nyiakan ni semua”kata Orlando mantap
♥♥♥
Beberapa hari setelah itu. siang itu Orlando kembali memeriksa semua barang-barang yang akan dibawanya keJepang. Hari ini keberangkatan Orlando keJepang. Karine beserta Mama-Papa pun berencana untuk kembali keJakarta.
“Ntar nyampe Jepang sering-sering kirim e-mail yah.”kata Karine didalam mobil
“Iya loh sayang, sering-sering kasih kabar Mama-Papa”timpal Mama Orlando
“Iya Ma.”
“ Orlando, kalo kamu balik dai Jepang nanti. Tante akan buatkan kamu brownies yang paling enak de”janji Mama Viona
Semuanya tertawa bahagia.
Setibanya di bandara.
Orlando memeluk kedua orangtuanya. Dan bergantian pada orang tua Viona. Mereka jadi tambah akrab. Orlando melangkah menyampirin Karine yang lagi asyik mengobrol dengan seseorang dari Hp.
“Huh…gue akan kesepian nih ga ketemu untuk beberapa tahun sama sepupuku yang bawel dan sok tau”ledek Orlando
“Huuu”protes Karine “Lo ga mau ngobrol dengan Viona???yah setidaknya lo bilang ‘tunggulah aku’kata Karine mendramatisir
“Hmmm…itu ga akan mungkin Viona sangat membenciku. Mungkin kami berdua ga jodoh kali.”
“Benci???”Tanya Karine pelan. Bukannya Viona mencintai Orlando, pikir Karine
“Iya. Waktu dia sakit, gue bermaksud untuk ngejagain dia, tapi dia malah mengusirku.”
Apa gue kasih tau aja kalo Viona juga sebenarnya selama ini penya perasaan yang sama. Ah…lebih baik ga usah, biar lebih sedikit menarik lagi. Biar kali ini cinta mereka diuji lagi oleh sepupu yang jahat ini…hahahahaha…guman Karine dalam hati sambil senyum-senyum
‘Panggilan kepada para penumpang dengan pesawat JAL 302 akan segera berangkat’
‘panggilan kepada para penumpang dengan pesawat jurusan Jakarta akan segera berangkat’
“Pesawat kita udah memanggil tuh”kata Karine
“Titip salam buat Viona”
Karine mengangguk pelan dan berjalan mendekati Mama-Papa Viona yang lagi asyik ngobrol dengan Kedua orang tua Orlando
“Do…sepertinya kedua orang tua lo dengan kedua orang tua Viona jadi akrab yah… gampang donk untuk jadi calon besan”ledek Karine
“Lo tuh ada-ada aja” kata Orlando dengan mimic wajah yang malu.
Di Jakarta..
Mama langsung memeluk Viona.
“Ma-Pa”kataku
“Kamu teraturkan makannya sayang?”Tanya Mama
Aku mengangguk pelan,”Terus gimana dengan acara disana?”Tanya ku pelan.
Mama diam sejenak “Ng…nanti aja yah. Mama capek, mau istirahat dulu”elak Mama dan langsung pergi ninggalin Viona. Viona pun berjalan malas-malasan kembali kekamarnya. Terdengar lagi J-Rocks ‘I’m falling in love’
“Yah…Rine??”sapaku pelan
“Lo kerumah gue donk. Gue kangen nih ma lo”kata Karine dengan manja
“Ok. Gue langsung meluncur nih”kataku dan langsung pergi menuju rumah dengan sepedaku.
Setibanya rumah Karine, aku langsung memeluknya yang baru keluar dari kamar mandi
“Wowowowo…nyantai buk”katanya
“Aku kangen nih”
“Iya aku juga”
“Gimana sih pestanya, tadi Tanya Mama, Cuma Mama diam aja”
“Oh…itu…pestanya B-A-T-A-L”kata Karine dengan tegas
“Batal??”Kok bisa” tanya Viona sambil mengerutkan dahinya.
♥♥♥
Di Tokyo…
Orlando menghirup udara Tokyo yang udah malam itu. Suasananya masih rame. Banyak orang yang hilir sana sini disekitar bandara. Orlando menaiki salah satu taksi. Dia memberikan secarik kertas pada supir taksi itu dan kemudian taksi itupun melaju. Taksi itu berhenti didepan sebuah menssion yang cukup besar.
“Arigatou”kata Orlando
“Hmmmm…Nadine sampe-sampe menyiapkan tempat tinggal buatku. Lo mank baik”guman Orlando pelan
Di Jakarta
“Gitulah ceritanya”kata Karine mengakhiri
“Hmmm..terus, Orlando tetep tinggal di Bandung?” tanya Viona lagi. Dia berharap vowok yang dicintainya itu masih tinggal diBandung, dan berharap akan maen-maen lagi keJakarta.
Karine menggelengkan kepalanya”Sekarang dia diJepang”
Jepang…ga mungkinkan. Kenapa jauh gini sih jarak aku dengan Orlando. Meskipun ga berbalas, setidaknya aku bisa ketemu dia, batinku
“Lo mau tunggu Orlando?”Tanya Karine memastikan
“Hah…lo ngomong apa sih?”tanyaku yang pura-pura ga ngerti
“Lo mau tunggu Orlando?”Tanya Karine sekali lagi
“Hmm…aku…aku ga da hak untuk menunggu Orlando. Meskipun aku menunggunya, yang ada hatiku sakit.”jelasku
“Gitu ya”
***
Semakin lama jarak diantara kami semakin jauh. Dia yang ingin aku lihat, meskipun tak bisa. Kini dia telah pergi jauh. Aku betul-betul ingin ketemu dia dan memeluknya, tapi aku sadar semua itu hanyalah mimpiku yang ga logika banget. Tapi…aku ingin menunggu dia, meskipun hati ini sakit sekali. Tapi cintaku ini akan selalu aku simpan dalam hatiku, dan abadi selamanya. Aku akan selalu mencintainya…
Selalu…
Hari-hari Viona terasa kehilangan. Meskipun dia ingin sekali berjumpa dengan Orlando. Dia yakin meskipun bisa ketemu, apa yang akan aku katakana padanya…
Aku cinta kamu Orlando, gumanku. Hah…ga banget.
2 tahun kemudian
Setelah semuanya terjadi, sekarang Viona tetep masih mencintai dan menunggu Orlando.
Viona pun tampak berubah dalam 2 tahun ini. Semuanya berkat bujuk-rayu Karine. Karine berusaha membujuk Viona untuk merubah dirinya kesalon. Dan itu tampak jelas keberhasilannya. Viona betul-betul jadi cantik. Rambutnya yang lurus dibiarnya terurai. Pesawat giginya pun sudah ga dipake lagi. Yang ada sekarang Viona menjadi gadis yang cantik. Sehabis pulang kuliah, Karine memaksa Viona untuk menerbitkan ceritanya. Awalnya itu ditolak Viona, tapi Karine tetep maksa dan akhirnya Viona setuju. Mereka tiba di penerbitan GELORA AKSARA.
Penerbitan yang cukup terkenal.
“Masuk gih”kata Karine “Percaya diri donk. Lo pasti bisa”sambung Karine menyakinkan
Aku melangkah dengan ragu-ragu. Masuk dalam gedung itu. Aku menyamperin wanita yang cukup berumur, tapi masih kelihatan masih fresh dan muda.
“Ada yang bisa saya Bantu??”tanyanya ramah
“Gini, mbak. Saya mau nerbitkan Novel saya ini”kataku seraya memberikan isi naskah kepada wanita itu
“Hmmm…baik, nanti kami akan membaca naskah novel kamu ini. Dan 1bulan nanti akan kami hubungi anda. Apakah naskah novel kamu ini akan diterbitkan”jelas wanita itu.
Viona mengangguk semangat dan tak lupa meninggalkan no hp yang bisa dihubungi, kalo-kalo naskahnya dijadikan novel. Dan untungnya bias didapatkannya. Viona melangkah dengan riang keluar dari gedung. Dengan semangat dia menghampiri sahabatnya yang selama ini selalu mendukungnya dan memberikan semangat apapun itu. Begitulah sahabat sejati, dia ga akan meninggalkan sahabatnya dikala sedih, susah dan sekaligus dalam keadaan terpuruk sekalipun. Sahabat tak seharusnya memilih-dan dipilih. Karena sahabat akan terjadi jika ada kecocokan diantaranya, yah..betilah sama yang namanya cinta. Cinta yang selalu dan selalu diharapkannya, akankah dating kepadanya???
“Gimana??”Tanya Karine antusias.
“Katanya sih masih mau dibaca dulu. Kemungkinan hasilnya bulan depan, kalo cerita aku masuk, katanya akan diterbitkan” jelasku dengan mata berbinar-binar.
“Tuh kan…makanya kamu itu harus percaya diri. Gue akan selalu memberi kamu semangat dan dukungan de. Gue kan sahabat lo yang baik, cantik, imut”puji Karine sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya dan tersenyum centil. Yah khas Karine deh.
‘Vioja’ udah ga ada semenjak Orlando pergi. Viona menutup website itu dan menumbuhkan rasa percaya dirinya untuk berani menerbitkan ceritanya. Viona awalnya sempat ragu dengan keputusannya untuk go public menerbitkan ceritanya. Dia takut apa mereka menerima ceritanya, seperti mereka menerima VioJa. Tapi Karine tetep memberiku semangat yang membuatku betul- betul sadar. Sadar kalo selama ini aku salah. Salah, karena selalu memandang diriku dengan rendah. Satu kata yang selalu kuingat dari Karine “Selalulah berpikir positif, makanya hasilnya positif. Apa yang kamu pikirkan itulah yang terjadi. Kalo kamu pikir kamu jelek, buruk, maka begitulah orang menganggap kamu. Jika kalo kamu pikir kamu cantik, punya bakat dan yakin, itulah yang akan jadi hasil yang baik buat kamu.”
Aku menjadikan itu sebagai motivasi aku sekarang. Aku betul-betul menjadi seorang Viona Jasmine yang baru dan aku suka itu. Aku suka diriku yang seperti ini, bukan yang selalu berpikir kalo diriku itu buruk dan jelek. Aku telah selama ini, kalo diriku begitu rendah dan bahkan aku selalu membuat diriku jadi seperti yang dipiranku. Karena apa yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi. Kalo aku berpikir aku ini jelek dan tampangku hancur, maka aku akan seperti itu. Dan orang-orang akan melihatku seperti itu. Makanya mulai sekarang, aku selalu berpikir positif ga netting lagi. Haha…
Kesempurnaan itu bukanlah buat manusia, tapi hanya Tuhan yang miliki itu semua. Tuhan selalu tau apa yang dapat membuat dia menjadi menonjol dari kekurangannya. Aku percaya Tuhan selalu menemani aku, memberi aku sebuah hidup yang aharus aku syukuri. Keluarga, dan sahabat yang selalu memberikan aku semangat dalam hidup ini. Kita ga bisa hidup seorang diri, musti ada orang yang harus menuntunmu dalam hidup ini. Dan ku berharap itu adalah jodohku. Pemilik tulang rusukku ini yang selalu menemani aku dalam suka dan duka…
Aku akan menjadi seorang Novelist terkenal. Dan aku ingin mereka dapat menerima aku sebagai Viona Jasmine… bukan VioJa.
♥♥♥
1 bulan kemudian, pihak Penerbitan Gelora Angkasa langsung menghubungi Viona. Memberitahukan kalo novelnya diterima dan akan siap diterbitkan untuk bulan depan. Mendengar itu Viona senang banget, berita bahagia ini pun langsung diberitahukan kepada Karine. Karine yang mendengar itu jauh lebih senang dibandingkan aku. “Yah…thanks Rine”kataku pelan
Di Bandara Soekarno.
Langkah kaki itu mantap berhenti didepan parkiran taksi. Dia memasuki salah satu taksi itu dan melaju dengan cepat meninggalkan bandara.
Taksi itu berhenti didepan rumah yang besar nan mewah. Rumah itu adalah rumah keluarga Karine. Cowok itu menekan bel rumah berkali-kali hingga dibukakan oleh Karine.
“ORLANDO”katanya terpelongo “Orlando!!!”teriaknya dan langsung memeluk sepupunya itu dengan erat “Gue kangen”timpalnya lagi
“Sama, gue juga.”
“Gimana kuliah lo??? Pastinya da dapat cewek Jepang donk”
“Hahhahahha…kuliahku lancar tinggal tunggu akhir semester ini. Soalnya tahun ini aku berencana menyusun skripsiku”jelasnya “Aku kangen nih Indonesia”timpalnya
“Kangen Indonesia atau kangen ama dia??”goda Karine sambil menatap Orlando lekat-lekat.
Orlando tersenyum malu “Iya…gimana dia sekarang??”
“Siapa?? Viona???”
Orlando mengangguk pelan, sekilas wajahnya malu saat mengangguk.
“Lo telat”kata Karine pelan. Orlando mengerutkan dahinya menerka-nerka maksud Karine “Maksud lo??”
“Hmm…lusa. Lusa Viona mau married”
DEG!!!!
“Lo ga lagi ngerjain guekan??”
Karine menggelengkan kepalanya.
“Sama siapa??”
“Mamanya menjodohkannya dengan anak cowok temannya. Kata Viona keren, dan itu membuatnya jatuh cinta”jelas Karine pelan sambil menatap Orlando yang terduduk lemas. Wajahnya pun berubah menjadi keruh dan dingin. Orlando bangkit dan langsung bergegas pergi. “Lo mau kemana??” Tanya Karine bingung.
“Gue..pinjem mo…mobil lo”katanya dengan mimic yang tegang. Karine begitu aja memberi kunci mobilnya. Orlando melaju dengan kencang, lalu melajukan mobil Karine dengan kencang.
“Hmm..endingnya gimana ya???”guman Karine sambil tersenyum licik.
Karine pun bergegas pergi. Dalam hati dia bersenandung kecil, wajahnya betul-betul senang karena udah berhasil nge-goda sepupunya. Dia pun menyurh sopir mengantarnya kerumah Viona, dia jadi penasaran akan apa yang nantinya terjadi.
Mobil itu berhenti didepan rumah Viona. Saat itu Viona lagi santai di taman belakangnya sambil menikmati suasana sore yang indah. Angin sepoi-sepoi terasa sejuk saat membelai pipi Viona. Viona pun jadi tampak asyik mengetik novelnya. Melanjutkan cerita yang sempat ditulisnya. Beberapa hasil karyanya di blognya itu, ga akan dia terbitkan, takut-takut kalo orang akan mengira seorang plagiat.
Kangen! Aku merindukannya! Apakah aku masih ada harapan untuk bisa bertemu dengannya. Seseorang yang udah hampir 3 tahun mengisi hatiku ini dengan cinta. Aku cinta dia, dan seandainya aku ada kesempatan untuk menyatakan isi hatiku dan diterima, aku ga akan pernah melepaskannya lagi. Karena aku ingin selalu bersama dia. Tapi itu hanyalah khayalanku yang ga mungkin terjadi. Kami begitu berbeda. Ga da yang bisa membuat kami untuk bisa bersatu…
Tanganku terhenti saat mataku menatap sepatu yang ada didepan mataku. Aku mengerutkan alisku seraya menatapnya dari bawah sampai keatas. Aku terpelongo melihat siapa yang kini didepanku saat dia tersenyum manis melihatku.
“ORLANDO”kataku terpelongo
Dia tersenyum.. “Orlando”kataku yang memastikan lagi
“Hai Vie”sapa Orlando pelan “Sebelum lo ngomong, izinkan gue untuk mengatakan sesuatu padamu.”
“…”
“Sebenarnya hal ini sudah lama ingin katakan, tapi aku sadar kalo selama ini kamu sangat membenciku. Apalagi saat aku mendengar kalo kamu mau dijodohkan dengan teman bonyok lo. Aku saat itu langsung memutuskan untuk…”putus Orlando dan menarik nafas dalam-dalam “Vie…gue…ah, bukan. Aku cinta sama kamu”ungkapnya dengan tegas. Diam menghembuskan nafasnya dengan lega. Dia diam sambil menatap Viona yang terpelong bak orang bego.
“Hah…apa??”tanyaku yang masih belom mengerti. Tadi Orlando bilang cinta ma aku. Aku ga salah dengarkan, pikirku
“Iya…aku cinta padamu. Aku ga peduli mau kamu benci padaku, ato kamu mau mau dijodohkan, yang penting perasaanku ini aku sampaikan langsung padamu”katanya pelan, sambil membalikkan badanya. Tapi langkahnya terhenti saat Viona mulai marik tangannya.
“Tunggu dulu, kenapa kamu beranggapan kalo aku benci padamu???”tanyaku bingung, lalu aku melepaskan tanganku. Aku menunduk malu.
“Lokan pernah mengusirku saat aku mau merawatmu waktu sakit. Sejak itu aku langsung ngambil kesimpulan kalo kamu benci padaku”jelas Orlando.
“O…waktu itu ya.. ng..aku lagi pusing aja, jadinya aku ngomongnya ngelantur lagi”jelasku yang semuanya adalah bohong banget. Akukan ga mungkin bilang saat itu aku lagi patah hai, gumanku dalam hati
“Dan satu lagi, aku sama sekali ga pernah benci padamu. Dan…aku ga pernah sekalipun untuk dijodohkan sama kedua orang tuaku. Kalo pun iya aku pasti menolaknya, karena aku…”putusku
“Karena kamu kenapa?”katanya dengan penasaran.
“Karena aku juga cinta padamu. Tapi aku sadar kalo itu semua ga mungkin terjadi.”kataku pelan. Orlando langsung memelukku, erat banget.
“Kaulah kelebihan dalam kekurangan yang aku miliki, dan aku adalah kelebihan untuk kekuranganmu”bisiknya
Aku tersenyum mendengar itu semua. “Anata wo aishiteru”bisikku.
Orlando melepaskan pelukan itu. dia menatapku dengan tatapan lembut. Perlahan-lahan tapi pasti dia menundukkan kepalanya. Dengan begitu cepat, bibirnya mendarat dibibirku. Ciuman yang lembut, dan begitu nikmat dan mesra. Ciuman itu betul-betul membuatku menjadi gemetaran. Orlando melepaskan ciuman itu lalu memegangi pundakku yang gemetaran.
“Vie, lo ga papa?”Tanya Orlando memastikan. Dia bingung sambil memandangi Viona yang tertunduk malu.
“A…aku ga nyangka, kalo ciuman pertamaku bakalan senikmat ini. Dan aku bisa memberikannya pada orang yang aku cintai”tuturku polos.
Orlando hanya tersenyum malu mendengar itu. dan mereka pun kembali lagi ciuman.
“Owh…so sweet”kata Karine memecahkan semuanya.
“ KARINE!!!!”teriakku dan langsung mengejarnya.
Aku senang ternyata kali ini perasaanku terbalas. Aku senang kalo orang yang aku cintai memiliki perasaan yang sama denganku. Dan aku belajar dari itu semua, kalo tiba waktunya, Tuhan akan memberikan kita seorang pendamping yang terbaik dan aku senang untuk semua itu. Aku juga ga mau lagi untuk selalu terpuruk dengan keadaanku. Siapa pun aku, bagaimana pun aku. Kalo mank dia jodohku, Tuhan akan selalu membantuku. Thanks God. Engkau selalu memberikan aku semangat hidup yang dapat membantuku dalam menjalani hidup yang Engkau berikan…
Dentangan lonceng gereja pun berbunyi dengan lantang. Viona dan Orlando keluar dari gereja. Wajah mereka tampak begitu bahagia. Viona membelakangi para undangan yang siap-siap untuk menunggu lemparan bunga dari pengantin.
“Siap-siap yah”kataku
Aku melemparkan bunga itu dan dengan tepat ditangkap Karine. Orlando tersenyum.
“Duh…nyusul de nih bentar lagi”kata Karine malu. Thomas langsung memeluk Karine dan mengecup kening Karine.
Siapapun aku, gimanapun diriku. Canti ato jelekkah aku, aku pasti harus optimis, dan selalu yakin. Yakin kalo selama kau berpikir positif akan positiflah hasilnya. Selalulah yakin akan dirimu, karena kaulah yang menentukan nasib cintamu sendiri, bila kau yakin akan dirimu!!!!
The end!